
Dalam gelap malam, dari arah anjungan resto di tepi telaga tampak dua tiga sampan bermotor hilir mudik. Satu tangan pengemudi mengendalikan tuas pengarah, satu tangan lainnya seperti memegang galah pendek.
Orang di resto bilang, tukang sampan sedang memunguti bola golf yang mengapung di atas permukaan telaga dengan tongkat serokan. Namun dari kejauhan bola-bola itu tak terlihat.
Apa yang saya lihat tidak jelas karena sudah malam. Ponsel murahan saya juga tak dapat menghasilkan gambar layak. Jika benar tukang sampan memunguti bola golf, berarti rasa ingin tahu saya saat senja pun terjawab: ada bola golf yang tidak tenggelam.

Senja, kala mata saya dapat melihat dari kejauhan, saya lihat bola golf yang mencelat setelah dipukul dari driving range mendarat di atas air telaga. Ada yang menghasilkan cipratan. Saya membatin, sayang sekali bola cuma sekali dipakai, dan lebih sayang lagi hanya menjadi sampah di dasar telaga. Bola yang ramah lingkungan bisa diuraikan oleh alam, sedangkan yang buruk membutuhkan waktu hingga seribu tahun (¬ Playgreenly).
Saya mencari informasi, ternyata bola yang dipakai di Golf 1 Driving Range, Buperta Cibubur, Jaktim, itu bola apung (floating balls) sehingga tidak kelelap. Bisa dipakai lagi. Ini pengetahuan baru bagi saya.
Saya bersyukur dalam usia sekarang masih punya kuriositas, padahal saya tak berkepentingan dengan golf. Memang saya pernah membeli bola golf bekas, itu untuk terapi saraf tangan.
Bola golf itu keras. Dipakai bermain oleh cucu tetangga, dari dalam rumah bola-bola itu menggelinding terus lalu masuk ke got.

Memang sih waktu muda sempat terbersit keinginan saya setelah tua akan bermain golf. Namun ternyata mahal, dan menurut teman saya yang pegolf, apa yang saya inginkan itu tak wajar karena saya membayangkan bermain golf sendirian, jalan dan memukul bola cuma diikuti caddy.
Dia katakan, “Golf itu olahraga sosial, bukan untuk orang soliter. Cuma professional golfers yang main sendirian diikuti caddies buat latihan mau turnamen. Kalo kamu suka sendirian, jalan kaki dan gowes itu yang paling cocok. Murah, sehat.”
