
Afirmasi Mendagri Tito Karnavian bahwa modal gede kandidat kepala daerah mendorong mereka yang terpilih menjadi korup dianggap sebagai apologi. Memang sih, Tito punya usulan solusi untuk mengatasi. Dia pun mengakui alasan korupsi kepala daerah sudah diketahui semua orang.
Sebagai mendagri, tak mungkin bagi Tito mengawasi semua kepala daerah selama 24 jam agar tidak korup. Bayangkan ada 551 kepala daerah yang terdiri atas 38 gubernur, 98 wali kota, dan 415 bupati. Kalau ditambah wakil kepala daerah jadi 1.102 orang. Perlu satu pulau kecil untuk retret berupa kemping, urusan F&B didrop dengan drone, tetapi urusan peturasan jadi sangat merepotkan, harus meniru kemping menteri di hutan IKN.
Menyangkut biaya politik yang mahal, saya malah punya bayangan utopis nan wagu dalam pilkada serentak, mungkin 2031 nanti. Cukup mengandaikan satu daerah saja, di suatu kabupaten semua politikus dan talenta lokal jujur belaka, sampai mereka sungkan menyebut kata akhlak, sehingga tak ada yang berani mendaftar ke KPUD sebagai kandidat. Calon independen juga tidak ada.
Lalu setelah KPUD mengulur pendaftaran juga tak ada calon. Artinya calon tunggal untuk melawan kotak kosong dalam kertas pun tidak ada.
Di kabupaten tersebut, para pengurus dan kader partai, serta semua orang potensial, jujur merata; mereka tahu diri tak punya modal, dan tiada nyali untuk melakukan korupsi. Di sisi lain para bohir selain jujur juga rasional sehingga mereka tak mau berinvestasi sesat dengan memegang jago.
Walhasil Kemendagri terpaksa menunjuk pelaksana tugas bupati entah sampai kapan. Masyarakat juga tak peduli siapa yang memimpin. Akibat trauma kolektif tentang semua bupati, mereka tak mau tahu soal pilkada.
Siapa nama pelaksana tugas bupati pun mereka tak tahu, dan memang tak mau tahu, karena bagi mereka semuanya generik. Hanya ada nama produk, apapun mereknya tidak penting. Parasetamol, tentu dengan “p” kecil, dan Panadol serta Sanamol, itu bagi mereka sama saja. Semuanya berfungsi antipiretik (penurun panas) dan analgesik (pereda nyeri).
Tampaknya itu semua menarik asalkan bukan utopia.
