
Akhir pekan ini perbincangan ihwal hardikan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Koperasi (Ahad, 12/7/2026), kepada orang Indonesia yang merasa tak nyaman di Indonesia untuk pindah ke luar negeri, sudah surut. Menurut kesan saya begitu. Saya tak menggunakan data amatan di media sosial.
Artinya, ucapan kontroversial Bowo dalam pidato akhirnya membuat sebagian orang terbiasa. Ucapan dia menjadi bahasan dan meme cuma sebentar. Penyebab lain, pekan ini ada saja peristiwa dalam negeri yang menggerakkan warganet untuk berkomentar.
Maka dengan santai orang bisa bilang tunggu saja besok dia bilang apa. Menunggu dalam arti siap tahu namun tanpa berharap.
Ya, itulah bedanya kita terbiasa dengan tukang sepatu dan penjual sayur keliling yang lewat depan rumah kita saban pagi. Kalau tukang sayur, kita memang menunggu dan berharap. Untuk tukang sepatu, kita tak setiap hari membutuhkan. Hal serupa berlaku untuk penjaja baterai jam.

Soal pidato yang menyilakan warga mencari negara lain itu mengingatkan rakyat bahwa ketika Bowo tak nyaman di Indonesia pasca-reformasi dia pergi ke Yordania. Di sana dia tetap WNI, namun kerajaan berencana menganugerahkan warga kehormatan dan Bowo menolak, “Terpaksa tidak dapat saya terima karena Indonesia tidak mengizinkan dwikewarganegaraan.” (Kompas.com, 7/5/2026; merujuk arsip koran Kompas 22/12/1998)
Pak Prabowo terpaksa mengasingkan diri sementara ke Yordania untuk menghindari fitnah yg mengatakan bahwa beliau adalah dalang semua kerusuhan pada waktu itu. Ternyata setelah beliau pergi, masih ada berbagai kerusuhan yg terjadi. Pernah dengar istilah warga negara kehormatan? https://t.co/LnUm1jgCuo
— Partai Gerindra (@Gerindra) April 20, 2018

3 Comments
Presiden embuh.
Mberuh, embuh ora weruh
Tong kosong nyaring bunyinya, ya Bang Paman 😬