
Menjadi guru sekolah berstatus ASN itu tak mudah. Pada zaman Orde Baru, sebagai anggota Korpri dengan monoloyalitas kepada Golkar para guru tak bebas berbicara. Misalnya mengajak murid menimbang Tragedi 1965 dengan kritis.
Juga tak mudah bagi guru sejarah dan pendidikan kewarganegaraan untuk menjelaskan sosialisme, padahal founding fathers berasaskan itu. Gagasan koperasi Bung Hatta bukanlah etatisme, tetapi apakah dia akan setuju dengan kecenderungan kapitalisme negara versi hari ini, itu memerlukan diskusi. Demikian pula PSI versi Sjahrir, yang elitis urban, dan menganut sosialisme Fabian.
Kini para guru ASN mestinya lebih bebas berbicara, apalagi kesejahteraan mereka yang masih berstatus honorer bertahun-tahun itu menyedihkan.
Ada sebuah sekolah swasta, muridnya cewek semua, di Jakarta, yang guru IPS-nya pada masa jaya media cetak mewajibkan siswi membawa koran agar headline bisa didiskusikan dalam kelas.

One Comment
Nah, siapa guru IPS itu?