
Guru bahasa Inggris akan mengelus dada saat seorang siswa menerjemahkan political parties sebagai pesta-pesta politis. Lalu guru kewarganegaraan akan tersengat ketika seorang murid bertanya apakah poli-tikus, yang kalau jamak menjadi politisi, bisa dipercaya, apalagi partainya.
Anak-anak itu tidak pandir, hanya jujur sekaligus naif. Apalagi setelah mereka misalnya mendengar PSI merekrut bekas napi korupsi.

Apa yang dilakukan PSI itu tipikal parpol. Demi kekuasaan harus punya strategi dan taktik. Tujuan boleh menghalalkan cara. Berkompromi sesat dengan mengabaikan konstituen bukanlah pengkhianatan.
Mereka, para poli-tikus partai, secara naluriah tahu perbedaan arti strategi dan taktik, namun pemahaman mereka soal moral dan etika entahlah. Kata fatsun, dari bahasa Belanda fatsoen, dalam politik bagi poli-tikus masa kini hanyalah kosakata usang generasi kolonial.

Misalnya ada orang Jawa yang menyebut PSI adalah singkatan Partai Sangsaya Isin, artinya partai yang semangkin malu, itu jelas salah. Lebih tepat jika disebut Partai Sengara Isin.
Sengara dalam bahasa Jawa berarti mokal atau mustahil. Wong Yoja lawas, seperti Suwariyun dan Marsidah dalam sandiwara di TVRI Yogyakarta pada 1980-an, masih mengucapkan kata sengara — dilafalkan sengoro.
PSI pada mulanya mencitrakan diri sebagai partai kaum muda, logo partainya berupa tangan memegang setangkai bunga, artinya tak seperti langgam logo partai-partai pendahulu. Sesama kader partai menyebut bro dan sis, terkesan urban sekaligus egaliter — padahal tak beda dari generasi kolonial yang menyebut broer dan zus.

Nyatanya PSI memang aneh. Dahulu ketum partai tak dipilih oleh kongres melainkan dengan penunjukan oleh ketua dewan pembina yang berlagak menjadi godfather. Baru belakangan AD/ART mengubah penunjukan menjadi pemilihan ketum melalui Pemilihan Raya, satu kader satu suara.
Yang paling konyol, anak bungsu seorang presiden, tanpa jejak karier politik, mendadak jadi anggota partai. Meritokrasi kader tak berlaku. Pengurus pusat dari Jakarta terbang ke Sala, menyerahkan kartu anggota ke rumah kader dadakan itu. Lalu dua hari kemudian si bocah yang memanggil Grace Natalie bukan sis melainkan tante itu menjadi ketum partai.

Dalam kampanye Pemilu 2024 PSI mem-branding diri sebagai partainya Mulyono. Lalu partai mengganti logo dari bunga ke gajah. Mungkin meniru ikon, bukan logo, dari Partai Republik di Amrik, dan bercita-cita menjadi partai baru berkelas grand old party. Bukankah Mulyono, yang akan menjadi ketua dewan pembina, sudah berikrar membesarkan PSI?

Lalu nanti orang-orang tua dari partai lain akan bergabung karena asrama lama sudah sesak. Sulit untuk menjadi petinggi padahal mereka yakin masih punya konstituen.
PSI sudah dua kali ikut pemilu, 2019 dan 2024, namun gagal masuk Senayan, perolehan suaranya di bawah syarat. Namun untuk dua kali pileg di DKI Jakarta, PSI lolos di DPRD, dapat delapan dari 106 kursi. Di luar DKI, PSI punya kursi legislator di 14 provinsi (1–6 kursi) dan di belasan kota/kabupaten.

Akankah PSI jadi gajah? Dalam Pemilu 2029 nanti pemilih pemula, artinya baru pertama kali ikut mencoblos (saat ini berusia 15–19 tahun), diperkirakan 60–70 persen. Kalau mereka semua adalah anak-anak yang hari ini menganggap political parties cuma pesta para poli-tikus pendusta yang tak layak dipercaya, tak hanya dari PSI tetapi semuanya, entahlah akan seberapa berpengaruh.
Dalam Pilpres 2024 keponakan saya memilih Bowo karena faktor cawapres yang menurutnya paham aspirasi kaum belia. Dia tak peduli kenapa pujaannya bisa mendadak jadi cawapres. Mungkin menurutnya, kalau orang itu boleh ikut mencalonkan diri berarti tak ada yang salah apalagi dari sisi fatsun karena etika adalah ndhasmu.

