Mengumpat itu biasa, sebelum ada medsos juga biasa

Semua pihak sakit, tapi pejabat tak berhak marah, rakyat sudah murka, sikon amat parah, tak hanya ekonomi.

▒ Lama baca 2 menit

Mengapa rakyat mengumpati pemerintah dan pejabat — Blogombal.com

“Orang kok makin kasar ya, Jeng. Saya liat video di WA, IG, FB, semua kata kotor diobral. Saya nggak suka sama pemerintah yang sekarang maupun sebelumnya, tapi saya nggak misuh. Apanya yang salah di masyarakat kita, Jeng?” tanya Pakde Dirjo usai makan malam mengundang Kamsi dan Kamso di rumah Pakde.

Usia Pakde 73. Masih rajin jalan pagi. Gula darah dan tensi terjaga. Adapun Bude Dirjo, usia 68, sudah menggunakan kursi roda setelah kakinya cedera tersebab jatuh di undak-undakan rumah.

Ditanya demikian, Kamsi menjawab, “Nuwun sèwu, sebenarnya saya risi juga, Pakde. Tapi masyarakat sudah marah, di sisi lain presiden saja dulu waktu kampanye bicara kasar, mengabaikan etika. Contoh dari atas gitu.”

Bude menyergah, “Tapi sebagai orang Jawa masa sih nyebut mulut pemimpin itu, maaf lho, cocot, bacot, lalu ngatain tolol? Saya waktu mau kontrol ke rumah sakit liat tulisan di tembok nama bekas presiden dan itunya pria. Saya nggak suka dia Jeng, tapi nggak sreg liat kata-kata itu ditujukan untuk dia dan yang lain, termasuk yang bukan pemimpin, cuma abdi, atau malah penjilat yang sakdrema nggolèk upa sampai yang nunut mulya. Malah siapa itu nyingkat jabatan si Anu sebagai, ya ampun… menstruasi.”

“Saya sih nggak ikutan bicara gitu, Bude. Tapi sebelum ada medsos kan banyak orang bicara kasar? Medsos membantu menyebarluaskan semua ungkapan itu. Ada yang bilang, pejabat jadi mbotên kajèn itu salah sendiri, ngundhuh wohing pakarti. Gimana, Mas?” tanya Kamsi, kepada suaminya setelah dia menanggapi Bude.

Kamso menyahut, “Yah begitulah. Bilang ora duwé utêk untuk orang lain bukan pejabat itu aja sudah kasar apalagi terhadap pemimpin negeri. Tapi pejabat nggak berhak tersinggung, karena rakyat sudah murka akibat sikon sudah parah, sementara pejabat yang digaji oleh rakyat merasa Indonesia baik-baik saja. Di sisi lain, orang yang ngingetin jagalah kata-kata mungkin bisa dianggap membela penguasa.”

“Berarti semua pihak sudah sakit. Rakyat muntab, mau muntah, pejabat segala tingkat merasa Indonesia tidak bermasalah. Menyedihkan. Untung cucu-cucu kami hidup di luar negeri. Meskipun umpatan ada di semua bangsa dan bahasa, setiap orang tahu kapan dan di mana boleh diucapkan,” kata Pakde.

“Apa yang diomongin dan tertulis di poster, atau tulisan di medsos itu jadi jejak digital kan, Mas?” kata Kamsi.

“Jejak digital siapa?” tanya Kamso.

“Yang ngomong, yang nulis, yang nyebarin. Eh, pihak yang jadi sasaran gimana, Mas?”

“Sebagai sejarah ya semua tercatat. Pihak sasaran merasa jadi korban. Termasuk sasaran itu aktivis yang dikatain monyet oleh pejabat, dan juga pejabat yang dihina rakyat.”

“Semua sudah sakit, pada ketularan,” kata Pakde.

Nuwun sèwu, sumber penyakit menular itu siapa, Pakde?” tanya Kamsi.

Tinggalkan Balasan