
Setelah bilang minta jamu, saya berpikir dulu karena penjual jamu menanya jamu apa. Akhirnya saya bilang pokoknya yang bikin sehat, kebetulan senja itu saya datang dengan pakaian olahraga disertai handuk kecil. Mas Jamu langsung memilihkan jamu Sehat Pria yang bersanding dengan Sehat Wanita. “Cocoknya ini, Pak,” katanya.

Jamu yang saya pesan itu jamu biasa, tak ada sugesti langsung yang mengarah ke afrodisiak. Menurut produsen, cukup diminum dua sampai tiga hari sekali. Setelah jamu tersaji dalam gelas, namun tanpa disertai seloki air jeruk karena diganti minuman semacam vitamin C, saya baru sadar bahwa di hadapan saya ada kotak jamu Jakarta Bandung.

Oh, Jakarta Bandung. Bergambar bus. Hanya AKAP, antarkota antarprovinsi, tidak antarpulau. Saya membandingkan dengan PM Toh (Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan, sejak 1957), bus dari Banda Aceh ke Jogja. Jauh. Lama. Apalagi sebelum ada jalan tol. Untuk menggiring pikiran ke durasi, bus antarpulau lebih meyakinkan.
Nama PM Toh yang legendaris diabadikan oleh penutur dongeng Agus Nur Amal, sehingga kadang namanya cukup disebut PM Toh. Agus bisa menirukan beraneka suara kendaraan, termasuk bus PM Toh. Ada yang menduga, dia dulu kerap naik PM Toh ke Jawa.

Merek jamu kuat umumnya mewakili alam pikir seputar seks, dengan unsur nama herbal (akar, daun, buah) dan satwa (kuda, singa, rusa, buaya, belut) yang diyakini berkhasiat. Saya ingat saat kuliah pernah terkilir, lalu mendatangi kios jamu dekat Pasar Demangan, Jalan Gejayan, Jogja. Saya lupa diracikkan unsur apa saja, dan ketika ditanya tacik penjual apakah butuh tambahan benda yang direndam dalam stoples, saya balik bertanya itu apa?

Tacik bilang, itu tangkur buaya. Saya bingung. Lalu dia jelaskan, “Itu t*t*t buaya direndam arak. Bikin kuat dan ngac*ng.” Buat apa siap siaga tetapi kaki bengkak dan pincang, untuk berjalan sakit banget harus rambatan. Akhirnya masalah kaki beres di gubuk tukang pijat, belakang SD BOPKRI Demangan, Kepuh, dengan papan nama “bengkel urat saraf”. Saya minum jamu kemudian ke tukang pijat karena setelah ditangani dokter saraf tetap menderita.

Unsur jenama jamu juga melibatkan ras, identitas geografis, dan kultur. Misalnya Dayak, Papua, Arab, Mesir, dan Afrika. Butuh diskusi sampai ndowèr untuk memastikan hubungan atribut itu dengan seksualitas. Kenapa tak ada Tibet, Alaska, Tahiti, dan entah apa lagi?


Adakah merek jamu kuat yang aneh? Ada: Hajar Jahanam. Saya pertama kali dengar nama itu dari seorang periset data digital saat dia meledek seorang anak buah. Kebetulan setelah itu saya melihat iklan sebulan Hajar Jahanam dalam sebuah laman web. Lalu saya poskan di blog wagu ini. Saya tak tahu siapa pemilik sah jenama Hajar Jahanam karena ada lebih dari satu versi desain kemasan.

Saya membayangkan jamu Hajar Jahanam cocok untuk polisi dan penegak dark justice, akan efektif menekan tingkat kriminalitas. KPK dan Kejaksaan Agung juga memerlukan Hajar Jahanam untuk mencokok koruptor.

Lalu buat apa saya masuk warung jamu? Senja itu saat berjalan kaki saya harus menelepon seseorang secara khusus. Saya tak dapat melakukannya sambil berjalan, bahkan dengan earphone. Saat menyetir saya juga tidak dapat berhala-halo.
Kebetulan tempat yang sepi dan nyaman untuk duduk lalu berbicara via telepon adalah warung jamu. Lagi pula lebih murah daripada kedai kopi. Menurut si empunya warung, dagangannya yang paling laku adalah jamu kuat. Oh pantas, isi rak kaca dipenuhi jamu kuat. Ada juga sih minyak angin bergambar Agnezmo. Lihat foto keempat.

Sepulang dari sana saya teringat pelesetan lagu “Suwé ora Jamu” di kalangan senior saya dulu. Suwé ora jamu / Jamu godhong tela / Suwé ora nganu / Nganu pisan ora suwé. Misalnya pelesetan lagu karya R.C. Hardjosubroto itu muncul enam-tujuh tahun lalu pasti dikomentari, “Huh, humor bapack-bapack grup WA.” Tak masalah, karena di warung itu ada jamu Greeng Jos Bapak. Lihat foto ketujuh.


One Comment
Habis minum jamu rasanya gimana, Bang Paman? Semoga sehat selaluuu
Saya sesekali minum jamu Sido, klo bikin sendiri paling ya kunyit asem atau jahe. Untuk herbal lebih suka kaplet, krn gak pahit ehehe