
“Pak Kam, Silmy Karim orang pinter, intelek, udah makmur, kok masih korupsi?” tanya Makmun Blender.
“Duit bikin lupa diri siapa saja, termasuk kita, eh apalagi kita yang orang biasa, saldo di ATM melongo mulu,” jawab Kamso.
“Kalo orang pinter mapan mestinya nggak gitulah, Pak.”
“Mapan turu? Dadan Hindayana so tumbal udah mapan kan? Penegak hukum juga terlibat korupsi. Ada pengacara, polisi, jaksa, hakim, padahal mereka melek hukum. Anggota DPR malah pembuat undang-undang. Udahlah nggak usah dibahas. Udah biasa itu, Mun. Basi.”
“Nggak boleh dianggap biasa apalagi basi dong, Pak!”
“Setelah penangkapan tersangka, kasus korupsi cuma bertahan jadi obrolan tiga minggu. Entar waktu sidang hanya dibahas kalo ada soal menarik, misalnya soal pacar. Setelah vonis sampe putusan MA cuma dibahas sekilas. Pengacara top flamboyan setelah bebas eh praktik lagi. Biasa aja, Mun. Entar ada kasus ginian lagi. Kita bosen. Orang media juga. Udahlah, Mun… ”
“Amsyong bener republik ini, Pak! Apa tanggung jawab pemerintah?”
“Jangan cuma nyalahin pemerintah! Masyarakat ikut salah. Kalo liat ada pejabat kaya dianggap wajar, padahal melebihi gaji. Kita juga suka minta sumbangan kepada mereka, buat RT, RW, rumah ibadah, kegiatan keagamaan. Bahkan anak-anak SMA suka minta bantuan buat bikin acara ke ortu temen yang pejabat.”
“Mmmm… gimana ya?”
“Di X saya liat ada cuitan Kopi Pahit kalo kartel narkoba lebih berat dibanding kartel korupsi di Indonesia, makanya korupsi di sini lancar jaya. Setelah bebas nggak malu.”
“Koruptor kalo masih punya duit banyak, di dalam penjara pun tetep enak ya, soalnya nggak dibikin miskin pol-polan! Republik ini bisa bubar, Pak!”
“Cuma bubaran kayak pasar desa. Entar buka lagi, lalu kukut lagi buat sementara, Mun. Pasar sekarang buka lagi nggak usah nunggu Pahing. Setiap habis subuh udah buka.”
