
Kondom dan pelincir bukan barang terlarang, dipajang bebas di meja kasir minimarket. Memang untuk orang dewasa, namun anak kecil bisa melihat dan bertanya kepada orangtuanya. Pertanyaan anak adalah pintu ke ruang diskusi.
Tentu setiap keluarga itu otentik. Masing-masing orangtua punya cara untuk menjelaskan masalah seks dan kesehatan reproduksi, sesuai norma dan nilai-nilai dalam setiap keluarga.

Saya dulu pernah ditanya putri bungsu saya, masih kelas dua atau tiga SD, ketika dia melihat kondom di Alfamart. Sebelumnya dia menanya kakaknya yang empat tahun lebih tua, dan si mbakyu dengan enteng bilang, “Tanya Bapak, Dik.” Saat itu kami pergi bertiga, berjalan kaki, lalu setiba di rumah saya jelaskan.
Saya membayangkan sebagian orangtua sekarang mungkin akan kerepotan jika si kecil bertanya mengapa kondom dan lubrikan diberi rasa. Yang sering ditonjolkan di minimarket adalah rasa stroberi, oleh misalnya Durex dan Fiesta. Saya menduga itulah rasa yang bisa diterima banyak orang.
Rasa buah itu menyangkut mulut, bukan mata. Fiesta punya varian stroberi, semangka, permen karet, dan walah… durian! Rasa jengkol dan petai belum dibuat, tetapi Fiesta pernah membuat edisi terbatas rasa mi goreng, cimol, dan kopi susu (¬ Suara.com, 29/3/2921 — apakah bukan guyon April?). Mungkin nanti ada rasa rendang, rawon, tongseng, dan gudeg.

Masalahnya anak-anak tidak hidup steril. Masa anak-anak saya masih kecil berbeda dari sekarang. Dulu internet ponsel belum ada, kini semua informasi deras membanjir tentang apa pun. Informasi tak hanya mereka raup dari pergaulan fisik namun juga pertemanan virtual media sosial.
Kesiapan orangtua masa kini terhadap pertanyaan anak, atau malah cucu, pasti beragam. Misalnya saat ini anak-anak saya masih kecil, saya juga belum tahu bagaimana menjelaskan tak hanya fungsi kondom dan pelumas tetapi juga mengapa berperisa.
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan dari pihak mana pun
