
Yang menarik di meja kasir warung pecel lele ini bukan kertas QRIS yang dijepit akrilik melainkan tumpukan buku nota kontan. Lho, bukannya itu hal biasa di setiap kedai? Memang.
Hal yang membuat saya tertarik adalah stok nota terlihat oleh pengudap, sekaligus agar hemat tempat maka ditumpuki kertas QRIS. Satu eksemplar buku nota non-NCR (no carbon required, tak perlu karbon untuk tembusan) Paperline berisi 50 lembar. Satu bundel berisi 10 buku, artinya berisi 500 lembar. Tumpukan dua bundel itu, kalau masih utuh, berisi seribu lembar.

Lalu? Warung ini laris, buka saban hari, pukul 14.30 hingga pukul 02.00 dini hari. Murah, meriah, sedap. Nila bakar Rp18.000, nasi uduk Rp6.000. Sambal tomatnya pedas sedang, enak. Saya pernah memotretnya. Karena setiap pesanan dicatat dalam nota, kalau perlu oleh pekerja warung, maka buku nota cepat habis. Kasir tinggal menghitung setiap nota. Ini rutin di setiap kedai bernota.

Kertas pesanan dengan cara apa pun adalah pedoman bagi orang dapur dan kasir. Kini banyak warung menggunakan cara modern, nirkertas, melalui tablet termasuk untuk menghitung nilai kudapan setiap pembeli, namun yang utama adalah layanan dan pengelolaan. Yaitu dalam menata antrean.
Adapun pembukuan dan pemantauan stok bahan dapur, dan evaluasi menu yang laris, meskipun bukan hal mudah, itu masalah juragan, bukan pengudap. Apakah kertas adalah segalanya? Tidak. Lihatlah penjual gudeg, bubur, dan getuk di warung kecil yang diantre. Tanpa itu pun bisnisnya lancar. Orang makan tak bayar sih ada di mana-mana. Media sosial mengabadikannya.
