Monitor untuk menonton siaran TV di bank

Memasuki ruang mengantre CS bank seperti bertamu ke rumah tetangga: ditemani siaran TV. Tapi nasabah tak peduli.

▒ Lama baca < 1 menit

Siaran TV langsung di ruang tunggu Bank Mandiri KCP Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Mendapati pesawat televisi — duh, jadul amir istilah ini — menyiarkan acara dari stasiun TV di lantai dua sebuah bank, saya membatin alangkah tertinggalnya diri saya. Atau bank yang tak mau berenang mengikuti zaman?

Saya merasa tertinggal karena sejak pandemi hampir tak pernah ke bank. Kemarin saya ke bank hanya akan membeli kartu e-money karena yang lama, sudah sepuluh tahun usianya, tidak dapat diisi.

Siaran TV langsung di ruang tunggu Bank Mandiri KCP Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Untunglah suara monitor gantung itu pelan. Padahal isinya debat atau apalah. Pokoknya peserta tampak bersemangat. Saya membatin masih layakkah siaran TV untuk nasabah yang mengantre?

Saya membandingkannya dengan layar ATM. Daripada layar cuma diam maka diisi aneka tayangan video promosional. Pada zaman layar ATM masih tabung monokrom CGA, setahu saya hanya memunculkan teks standar selamat datang dan menu, dengan tipografi default mirip MS-DOS.

Klip video musik A.M. Hendropriyono dalam lift — Blogombal.com
¬ Klip video musik A.M. Hendropriyono dalam lift sebuah menara perkantoran di Jakarta (2015). Klik gambar untuk membaca arsip.

Kini umumnya kotak TV untuk apa? Macam-macam. Sesuai namanya: monitor. Dalam lift gedung, monitor untuk aneka promosi, termasuk video musik seorang pensiunan jenderal. Dalam lift rumah sakit untuk edukasi kesehatan, berupa video singkat dengan angkur dan narasumber dokter.

Di warteg, kotak TV untuk menyetel video campursari dan dangdut koplo dari YouTube maupun flashdisk. Di ruang tunggu apotek, kini kotak TV lebih sering untuk konten promosional. Di kamar hotel lebih banyak pilihan untuk memanfaatkan kotak TV, termasuk dibiarkan menyala supaya kamar tak terlalu gelap saat penyewa kamar tidur.

Di toko elektronik dengan banyak kotak TV, sesekali barangnya masih dimanfaatkan untuk menyetel siaran stasiun televisi. Namun umumnya kotak TV yang dijual memutar konten demo keunggulan produk dari produsen. TV LED lebih hemat setrum ketimbang TV tabung. Semuanya dinyalakan pun bukan masalah.

Jadi, untuk apa bank menyetel siaran langsung dari stasiun televisi, padahal selagi menunggu nomor antrean disebutkan oleh mesin maka setiap orang asyik dengan ponselnya? Menghibur diri sampai mati tak hanya dari pesawat televisi. Bahkan serial drama Cina pun berformat vertikal karena untuk disimak di ponsel.

Tinggalkan Balasan