
Toko ini selalu tutup. Boks neon pada atap teras sudah jebol. Tulisannya Konica Digital Photo Service. Benak saya ditarik ke belakang, merunut era fotografi analog. Sang waktu melesat amat cepat. Seberapa tebal yang saya ingat?
Dalam benak saya, jenama film negatif Konica, sebelumnya bermerek Sakura, serupa hasil cetakannya dalam album lawas: memudar karena lapisan kimiawinya tersapu waktu dan kelembapan, dimeriahkan oleh belang-belang jamur.

Konica, pada abad lalu berarti film negatif berwarna, kamera saku point-and-shoot, dan minilab cuci cetak foto. Ah, itu masa lalu. Kini hasil jepretan ponsel bisa dibawa ke kios fotokopi untuk dicetak berwarna.
Dengan ponsel kita juga dapat merancang kartu atau poster kecil dengan teks dan tambahan gambar. Bahkan membuat pasfoto dengan ponsel di rumah pun mudah, tinggal diedit, sehingga latar belakang sesuai syarat administratif, lalu dicetak di kedai fotokopi.
Untuk film negatif berwarna, selama 1970–1980-an Sakura harus bertanding dengan Fuji Film, Agfa, dan Kodak. Proses cuci cetak film berwarna lebih mudah karena ada minilab elektronik yang tetap melibatkan cairan kimiawi.
Dulu fotografi hitam putih hanya untuk orang serius yang bisa mencuci cetak sendiri. Eh iya, istilah cuci film itu memang kuno, sesuai era. Sedangkan film positif (color slides) untuk kalangan profesional, termasuk majalah dan kalender full color abad lalu.

Oh, Sakura. Dulu, 1970-an, semboyannya dalam iklan, juga di TVRI, adalah “Lebih indah dari warna aslinya”. Perjalanan masa mencatat, Sakura menjadi Konica pada 1987, karena induknya, yakni Konishiroku Photo Industry Co. Ltd. di Jepun, berubah menjadi Konica Corporation.
Para 2003 Konica bergabung dalam Konica Minolta Holdings Inc. Mulai 2006 kompeni menarik dari bisnis film dan kamera, divisinya dibeli Sony, dan menghasilkan seri Sony Alpha. Tetapi beberapa minilab Konica dan filmnya di Indonesia masih ada hingga 2010. Maka saya heran mengapa di kompleks ruko Pondok Gede Asri, Kobek, Jabar, masih ada kios Konica.
Lantas pentingkah cerita ini? Tidak. Hanya bermanfaat untuk menggali ingatan lansia, dan yang sedikit lebih muda, lalu mereka memeriksa arsip film negatif dalam amplop minilab dan memeriksa merek pada klise.
Kini foto-foto jadul dari era analog yang kurang tajam dapat diretus (dari kata dasar arkais “retus”, serapan untuk retouch) dengan aplikasi ponsel berbasis akal imitasi (AI), sehingga foto lawas menjadi setajam jepretan hari ini.
