
Memang, negeri kita sedang tidak baik-baik saja, namun nun di Tanah Palestina kekejian dan penindasan terus berlangsung. Teramat banyak untuk diceritakan. Laporan Kompas hari ini (Rabu, 15/4/2026) mencoba mengingatkan pembaca dengan rangkuman tentang tragedi kemanusiaan namun dunia tak berdaya.

Sebagai wong lawas, saya masih menganggap koran memiliki daya tarik justru karena tidak dinamis. Apa yang sudah tercetak dapat berubah mengikuti degup warta searah laju masa.

Di media berita digital, terutama versi web yang tata letaknya sudah berupa templat, namun kontennya dinamis, menit demi menit berubah, jika tanpa disertai penyesuaian akan menjadikan semua kabar tampak setara. Berita pesohor bercerai dan kebijakan sesat pemerintah seolah setara, sama pentingnya.

Tata letak media cetak yang berisi berita telat sehari justru memberikan keleluasaan dalam keterbatasan ruang pemuatan. Editor harus memilih dan menetapkan berita apa yang tampil utama dan dominan dalam suatu edisi. Posisi media terhadap sebuah isu pun teraba lebih jelas.

Akan tetapi kita tahu, media cetak adalah masa lalu, untuk konsumen informasi berlatar jadul, yang masih menyukai teks, bukan video demi video singkat yang kadang tak jelas konteksnya dan dapat menjebak kita dalam doomscrolling. Kalau sempat, barulah kita menanya AI untuk beroleh ringkasan isu aktual dalam bahasa yang lebih bagus daripada kita.
Ada yang bilang hal itu dapat mempermiskin jelajah kebahasaan. Tentu, tuturan teks mendalam nan tertata dalam media digital juga merawat dan memperkaya kemampuan kebahasaan pembaca.
¬ Infografik: Kompas
