Persoalan MBG tiada habisnya

Begitu pula KDMP, lalu ada soal Saiful Mujani dan Magdalene.co. Quo vadis, Endonesah?

▒ Lama baca 2 menit

View this post on Instagram

Kapan persoalan MBG selesai? Orang optimistis akan menjawab, “Bahkan ketika makanan di dapur MBG itu habis, tetap saja jadi persoalan.”

Hal itu bertolak dari premis bahwa setiap hal dalam kehidupan ini selalu memiliki masalah. Kalau masalah ditempatkan sebagai hal positif, keyakinan akan munculnya hal tersebut disebut optimisme.

Apakah pemerintah berpola pikir macam itu? Anda saja yang menjawab. Tanpa menjadi pengikut Cak Lontong, setiap orang dapat menemukan cara berkelit, untuk pembenaran diri.

Adapun cara pandang kedua berpijak pada keyakinan diri: orang lain bisa bilang salah, tetapi kalau menurut kita itu benar, abaikanlah suara rakyat di akar rumput layu maupun para cendekiawan. Kita yang saya sebut itu pihak pemerintah.

Lalu bagaimana kita menghadapi kemelut MBG, sementara BGN cincai terus, karena pemimpin nasional pasang badan?

Paling mudah ya melihatnya sebagai komedi menyakitkan. Banyak orang bukan bergosip di punggung pemerintah, melainkan terang-terangan, namun BGN cuek saja, sehingga yang berlangsung adalah warga masyarakat bertukar kekesalan tanpa penat.

View this post on Instagram

Yah, serupa ndhagêl sendiri ketawa sendiri. Atau setiap hari menangguk kabar buruk MBG, lalu bukan hanya kesal sendiri tetapi juga gula darah dan tensi menanjak. Orang BGN dan lainnya di pemerintahan tinggal mentertawakan: “Kalian yang angkat masalah, sekarang kalian yang bermasalah.”

View this post on Instagram

Hal serupa terjadi pada proyek Koperasi Desa Merah Putih. Namun kedua masalah besar tersebut tetap terbuhulkan pada satu pertanyaan, kita harus bagaimana?

Jika kita merujuk Saiful Mujani sebaiknya kita berharap dia hanya melucu seperti Pandji Pragiwaksono. Kalau kita serius, kasihan Saiful akan dianggap menghasut rakyat melakukan makar. Tudingan ini tidak lucu.

Sama tidak lucunya dengan unggahan Magdalene.co di Instagram yang oleh Kemkomdigi diminta tak dapat diakses, tentang tim 16 orang penyiram air keras terhadap Andrie Yunus, karena disinformatif dan provokatif, serta “memengaruhi kepercayaan terhadap institusi negara”.

Kalau info Magdalene.co tidak benar, kan tinggal dibantah? Atau bawa saja ke pengadilan.

Kalau unggahan itu ngaco, kenapa hanya dibatasi di Indonesia (geo-blocking), tetapi bisa diakses dari luar negeri?

4 Comments

Dedi Dwitagama Rabu 8 April 2026 ~ 11.16 Reply

MBG = Ma Bapa Guwe mah bebas, suka” aja uangnya buat apa … kebetulan para pengamat itu seleranya tinggi, mereka tak mengkonsumsi menu Ma Bapa Guwe

Pemilik Blog Rabu 8 April 2026 ~ 14.07 Reply

Tadi penjual karedok dan gado-gado bilangnya “embego”

Nohirara Swadayana Rabu 8 April 2026 ~ 02.31 Reply

“Indonesia negeriku, orangnya (baca: pejabatnya) lucu-lucu…”

Saking lucunya, kita sampai pusing tujuh keliling dan jengah dibuatnya.

Pemilik Blog Rabu 8 April 2026 ~ 08.23 Reply

Lihat saja cara negara memandang Wikimedia dan Wikipedia. Mereka pura-pura lupa bahwa sebagai platform terbuka, Wiki tidak memonopoli kebenaran karena terbuka terhadap koreksi. Itulah unsur media digital yang dinamis.

Bahkan Wiki tidak menempatkan dirinya sebagai rujukan apalagi untuk penulisan ilmiah termasuk makalah.

Tinggalkan Balasan