—
Kapan persoalan MBG selesai? Orang optimistis akan menjawab, “Bahkan ketika makanan di dapur MBG itu habis, tetap saja jadi persoalan.”
Hal itu bertolak dari premis bahwa setiap hal dalam kehidupan ini selalu memiliki masalah. Kalau masalah ditempatkan sebagai hal positif, keyakinan akan munculnya hal tersebut disebut optimisme.
Harga kaos kaki sampai Rp100 ribu per pasang. Total 6,9 miliar dana MBG dipakai buat beli kaos kaki. 🧦
Tak dapat dimungkiri, MBG menjadi program pemerintah yang menggunakan paling banyak dana anggaran. Pada 2025, 6,2 triliun dianggarkan hanya untuk program MBG.
Tetapi, uang… pic.twitter.com/BeewJWhtCd
— Project Multatuli (@projectm_org) April 6, 2026
Apakah pemerintah berpola pikir macam itu? Anda saja yang menjawab. Tanpa menjadi pengikut Cak Lontong, setiap orang dapat menemukan cara berkelit, untuk pembenaran diri.
Adapun cara pandang kedua berpijak pada keyakinan diri: orang lain bisa bilang salah, tetapi kalau menurut kita itu benar, abaikanlah suara rakyat di akar rumput layu maupun para cendekiawan. Kita yang saya sebut itu pihak pemerintah.
BERBEDA dengan hasil riset yg berkesimpulan bahwa warga berpendapatan menengah-bawah cenderung pro MBG, hasil riset kami menemukan sebaliknya.
80,2% warga dng pendapatan kurang dari 2 juta/bulan justru tidak setuju program MBG dilanjutkan. Mengapa demikian? pic.twitter.com/8vOYPA43O6— Arif Novianto (@arifnovianto_id) April 7, 2026
Lalu bagaimana kita menghadapi kemelut MBG, sementara BGN cincai terus, karena pemimpin nasional pasang badan?
Paling mudah ya melihatnya sebagai komedi menyakitkan. Banyak orang bukan bergosip di punggung pemerintah, melainkan terang-terangan, namun BGN cuek saja, sehingga yang berlangsung adalah warga masyarakat bertukar kekesalan tanpa penat.
Yah, serupa ndhagêl sendiri ketawa sendiri. Atau setiap hari menangguk kabar buruk MBG, lalu bukan hanya kesal sendiri tetapi juga gula darah dan tensi menanjak. Orang BGN dan lainnya di pemerintahan tinggal mentertawakan: “Kalian yang angkat masalah, sekarang kalian yang bermasalah.”
Hal serupa terjadi pada proyek Koperasi Desa Merah Putih. Namun kedua masalah besar tersebut tetap terbuhulkan pada satu pertanyaan, kita harus bagaimana?
Jika kita merujuk Saiful Mujani sebaiknya kita berharap dia hanya melucu seperti Pandji Pragiwaksono. Kalau kita serius, kasihan Saiful akan dianggap menghasut rakyat melakukan makar. Tudingan ini tidak lucu.
Sama tidak lucunya dengan unggahan Magdalene.co di Instagram yang oleh Kemkomdigi diminta tak dapat diakses, tentang tim 16 orang penyiram air keras terhadap Andrie Yunus, karena disinformatif dan provokatif, serta “memengaruhi kepercayaan terhadap institusi negara”.
Kalau info Magdalene.co tidak benar, kan tinggal dibantah? Atau bawa saja ke pengadilan.
Kalau unggahan itu ngaco, kenapa hanya dibatasi di Indonesia (geo-blocking), tetapi bisa diakses dari luar negeri?
Pernyataan sikap bersama, Magdalene dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) terkait tindakan pembatasan terhadap publikasi berita Magdalene oleh Komdigi.@lbhpersjakarta @AJIIndonesia @safenetvoice @AMSI_ID @amnestyindo pic.twitter.com/NktcpdXrRK
— Magdalene (@magdaleneid) April 6, 2026

4 Comments
MBG = Ma Bapa Guwe mah bebas, suka” aja uangnya buat apa … kebetulan para pengamat itu seleranya tinggi, mereka tak mengkonsumsi menu Ma Bapa Guwe
Tadi penjual karedok dan gado-gado bilangnya “embego”
“Indonesia negeriku, orangnya (baca: pejabatnya) lucu-lucu…”
Saking lucunya, kita sampai pusing tujuh keliling dan jengah dibuatnya.
Lihat saja cara negara memandang Wikimedia dan Wikipedia. Mereka pura-pura lupa bahwa sebagai platform terbuka, Wiki tidak memonopoli kebenaran karena terbuka terhadap koreksi. Itulah unsur media digital yang dinamis.
Bahkan Wiki tidak menempatkan dirinya sebagai rujukan apalagi untuk penulisan ilmiah termasuk makalah.