
Kutemukan foto dalam ponsel, jepretan 2 Maret lalu, masih bulan puasa. Tanpa melihat geotag dalam foto aku ingat tempatnya. Ya, itulah kedai kopi pada sebuah ruko yang aku datangi kedua kalinya; yang pertama pada 2007.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir ngopi sendiri? Ya, ingat. Februari tahun lalu, saat berjanji untuk bersua seorang sahabat, kemudian pindah ke kedai sebelah setelah bersua dia. Di kedua tempat itu aku mengabadikan sirih dalam gelas yang dijadikan vas.

Makin ke sini aku makin jarang ke kedai kopi sendiri, terutama sejak Covid-19, karena saat itulah aku sudah tak berkantor dan jarang ke luar rumah. Saat masih bekerja aku sering menyinggahi kedai kopi sendiri. Menyempatkan diri membaca semua pesan WhatsApp, membaca email, dan kadang membaca buku.
Sesekali kalau terpaksa, aku membuka laptop, membuat infografik dan menulis artikelnya, kemudian aku terbitkan. Kini semuanya bisa dilakukan dengan akal imitasi. Namun aku bersyukur sempat mengalami pencarian nafkah, dengan mendesain dan menulis, sebelum didepak disrupsi.

Kadang aku ngopi sambil bekerja di kedai, sementara istri dan anak ngopi atau melakukan hal lain di mal. Aku tersenyum mengingat itu.
Di stasiun, atau dalam perjalanan ke stasiun, sepulang dari kantor dengan berjalan kaki, kadang aku juga menyinggahi kedai kopi. Untuk beristirahat dan melamun sambil mengamati sekitar yang diisi langkah-langkah bergegas.
Aku dulu sering membatin, apakah kehidupan harus selalu terburu-buru tanpa kesempatan bagi diri sendiri untuk mengerem waktu? Memang sih, laju waktu tak mungkin kita perlambat.

Lalu mengapa Maret lalu aku mendamparkan diri ke kedai yang sajiannya zonk? Karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelah mengelilingi semua lantai plaza dan blok ruko, sehingga dapat memotret anak SMP masuk mal, padahal urusan istriku di sebuah ruang dalam ruko di blok lain belum usai.
Lantai atas tak ber-AC, untuk mengasap, di kedai itu sepi. Kalau di lantai bawah, dua pertiga mejanya terisi pengudap. Ruang atas agak kotor. Dindingnya berdebu. Demikian pula tirai plastik tebal sebagai perisai tempias hujan. Filter pada ponsel menjadikan tempat itu nyaman bersih. Aku melakukan manipulasi visual, memanfaatkan fitur ponsel.

Rasa kopi amerikano tanpa gula kalah dari Poin Indomaret, untuk tersaji di meja butuh sepuluh menit lebih. Adapun roti goreng terhidangkan setelah menunggu 20 menit, baru dua gigitan aku hentikan padahal aku bukan orang kikrik. Sempat menyelinap rasa bersalah.
Meskipun demikian, satu setengah jam di sana aku tak menyesal. Aku beroleh selingan, antara lain untuk melamun dan mengabadikan jejakku di sebuah tempat, bukan dengan berswafoto untuk aku bagikan ke media sosial karena itu bukan kebiasaanku. Bagiku ngopi sendiri di kedai, kadang dengan memunggungi keramaian, adalah suatu kemewahan, tersebab kini jarang aku dapatkan.


7 Comments
saya ngga biasa ngopi sendiri di kedai kopi. sementara istri saya suka banget dheleg-dheleg sendiri di kedai kopi..
Beda orang beda preferensi. Konon itu bertaut dengan kepribadian. 🙏
Kalau saya, setelah enggak punya kantor, kadang-kadang wedangan sendirian. Minum teh tawar panas, makan dua bungkus sego kucing dan lauk gorengan. Siang hari. Saya sangat jarang wedangan malam hari — seringnya mbungkus lalu membawa pulang alias take away.
Oh iya, wedangan bisa berarti dua hal. Satu, tempat (tempat untuk minum wedang dan makan): dua, kegiatan (minum dan makan di wedangan/tempat minum dan makan).
Dekat rumah ada ya, Lik?
Wolha banyak no.
Roti gorengnya seperti kebanyakan isian, Bang Paman? Kebayang pasti manis banget ya?
Yah gitu deh. Gak enak. Kalo tau saya gak akan pesan. Buang duit dan makanan itu gak bagus. 🫣