
Tadi siang dari dari kejauhan terlihat kaca belakang taksi Blue Bird memuat gambar Rhoma Irama muda. Saya membatin, apa sulitnya memakai AI untuk memudakan Rhoma yang akhir tahun ini genap 80 tahun?

Setelah makin dekat dengan taksi, saya sadar itu sosok impersonator. Begitulah, sosok Rhoma itu ikonis, yang seperti halnya Achmad Albar, Elvis Prisley, dan Michael Jackson mudah ditiru; meskipun belum tentu mirip banget, tetap diterima serupa dengan yang asli.

Setelah yakin itu cuma rhoma-rhomaan, saya membaca tulisan Rhoma Don’t. Saya sempat telmi, apa maksudnya? Lalu saya paham: itu pelesetan Ramadan yang dilafalkan romadon. Kalau misalnya Rhoma Down atau Rhoma Dawn, dengan bunyi “o” berbeda dari don’t, akan sulit memintal benang merah dalam mengemas pesan.
Saya tak menonton TV, iklan Rhoma Don’t dari Grab belum pernah menghampiri saya di media sosial dan situs web, karena akibat algoritma dan seterusnya yang sering menyapa saya adalah dari GoTo. Maka segera saya cari konten Rhoma Don’t di Instagram Grab serta video di YouTube. Ramadan selalu menghadirkan iklan dan promosi menarik.

5 Comments
saya malah suka iklan ramadan dari perusahaan rokok.. wkwkwk
Iklan pabrik rokok pas Lebaran biasanya bagus. Dulu gitu. Yang sekarang gak ngikutin.
Iklan 17-an yang paling bagus menurut saya Gudang Garam abad lalu. Belum ada AI dan drone. Konfeti ditabur beneran.
Kalo iklan korporasi ya marching band di Bromo dari Sampoerna. Pake marching band Mereka yang isinya karyawan, tapi jadi masalah hukum saat seorang buruh linting buat model iklan cetak perusahaan karena gak minta izin, gak ada kontrak.
Saya malah baru ngeh dg iklan ini, padahal langganan grab juga. Saya selaku fans berat bang Rhoma merasa sangat kudet 🥲
Sejak dulu Bung Warm adalah Rhommania 👏👍😁💐
😅 keren jg istilah Rhomania ini, paman