
Lihatlah foto di atas. Ada jejak ban sepeda motor di atas jalan basah. Motornya mana? Sudah jauh di depan. Melesat, namun ketika dia melaju di samping saya yang sedang berjalan kaki, eh jeda rana (shutter lag) ponsel saya lemot.
Artinya, masalah ada pada ponsel saya, karena kalau saya berjalan lebih ke depan akan terciprat air dari jalan becek, padahal senja itu hujan sudah lama berlalu. Bukankah itu wajar? Betooollll. Jangan sambat, hidup di dunia cuma sekali, kata Anda.
Jadi masalahnya di mana? Lajur pedestrian ditutup pemilik bengkel las. Hal ini pernah saya foto pada 2024, dan kini tutupan penghalang orang itu lebih rimbun. Hasilnya sama: pejalan kaki harus turun ke badan jalan basah. Bukan salah motor dan mobil kalau ban mereka menciprati orang karena bukan cita-cita. Apalagi saat berpapasan dengan kendaraan lain mereka harus menepi.
Kenapa hujan sudah lama usai tetapi jalan tetap basah? Air hujan tak terserap oleh got, apalagi jalur air ke got sering ditutup. Bahkan sering terjadi, saat panas kerontang tidak hujan pun pada ruas jalan tertentu tetap basah karena air got naik. Air datang dari got yang elevasi jalannya lebih tinggi, sehingga got di daerah cekungan menjadi jalan keluar. Pemkot lalai merawat drainase secara rutin dalam periodisasi rapat.

Pak Wali Kobek boleh marah-marah terhadap penggali liar di jalan kotanya, dan dia siarkan di media sosial, tetapi perawatan drainase dan hak pejalan kaki di pinggiran, jauh dari kantor walkot, tak usah dipikirkan karena lurah dan camat tak melaporkan, menyerahkan masalah pada aduan warga langsung ke atas. Ini bukan saya mengeluh, hanya curhat sebagai antek asing.


2 Comments
Hidup antek asing. Antek asing adalah kita… Makan tahu tempe pun kedelainya impor 😀
Lha yes. 😁👍