
Foto bunga yang saya jepret pukul sebelas siang kurang lima menit, saat langit berawan, ini mengingatkan saya pada foto masa lalu. Ya warna kembangnya, ya warna daunnya, serta awan. Padahal saya tak tahu nama bunga ini. Padahal setiap hari saya lewat di depannya.
Dulu, zaman tak enak, waktu saya kecil hingga remaja, kalender dinding dan sampul majalah hiburan sering menampilkan model di taman. Mungkin tata rias belum maju, di bawah cahaya siang wajah si model tampak berminyak, pantulan blitz sangat terlihat. Editing foto dengan komputer juga belum ada.
Warna foto tergantung jenis film negatif maupun positif berikut pemrosesannya. Tentu filter pada lensa juga berpengaruh. Setelah foto berubah karena cuaca, bisa aneh warnanya.
Penampakan tanaman seperti dalam foto ini bisa dengan model berkebaya sampai berbikini. Aneh, siang panas berkebaya dengan riasan lengkap seperti mau pergi ke kondangan, berpose di taman.
Juga aneh, siang panas bukan di tepi kolam maupun di pantai kok berpose bersama tanaman. Selera bergaya masa lalu, saat fotografi berfilm, mungkin memang begitu. Foto pose sudah berdandan pada masa lalu untuk dalam ruang adalah dekat televisi atau kipas angin. Atau berdiri di depan tembok yang ada lukisannya. Kadang foto tak tajam karena kameranya jenis fixed focus.
Lalu ini tanaman apa? Kata layanan AI adalah nona makan sirih merah (Clerodendrum thomsoniae). Menurut Socfindo Conservation ada juga yang menyebut nona sirih, bunga nyonya nginang (Batak), sirih sirian, dan kembang loro ati (Jawa).
Dalam bahasa Inggris ada yang menyebutnya bleeding heart vine. Eh, heart itu jantung atau hati sih? Kalo patah jantung bisa selesai kita. Dood, kata para simbah kolonial.
