Kapan terakhir kali kau memandang dunia luar dari jendela?

Dari balik jendela rumah maupun kantor, apakah yang kau lihat dan pikirkan?

▒ Lama baca < 1 menit

Apakah kau sering berdiri di belakang jendela? — Blogombal.com

Jendela. Setiap orang butuh dan suka. Jendela juga menjadi tamsil untuk aneka hal. Karena jendela, yang kita serap dari bahasa Portugis janela, adalah lubang dalam dinding tetapi bukan untuk dilangkahi, merupakan bagian dari batas dunia dalam rumah dan luar rumah, namun dari dalam maupun dari luar masih dapat saling melihat.

Gambaran jendela dalam banyak orang sejak dulu, bahkan dalam coretan anak-anak, adalah lubang dengan daun jendela ayun ke samping, kalau sepasang disebut jendela kupu-kupu.

Aku tak tahu jendela model apa yang akan digambar jika anak-anak sekarang diminta menggambarnya. Apakah jendela kupu-kupu, jendela jungkit dengan engsel di atas, atau jendela dengan bukaan geser menyamping maupun ke atas, ataukah jendela nako, atau malah jendela yang tak dapat dibuka?

Siapa tahu mereka menggambar berdasarkan apa yang sering mereka lihat, terutama di rumahnya. Pun siapa tahu di sekolah mereka yang namanya jendela kaca tidak dapat dibuka.

Aku sering memikirkan satu hal yang tak penting secara sepintas: apakah setiap orang menyempatkan diri berdiri di belakang jendela, memandang dunia luar, sesempit apa pun lanskap di luar?

Tebar pandang dari balik jendela kian terbatas karena jarak antarbangunan kian rapat. Jendela lantai dua dari dua rumah yang berhadapan di gang sempit, yang hanya cukup untuk dua sepeda motor, tetap lebih baik daripada tanpa jendela.

Jendela dalam tata ruang macam itu tetap memberikan kemewahan bagi perempuan untuk merias diri dengan cahaya alami, memegang cermin tangan. Pria dapat merapikan kumis dan jenggot dengan cara serupa.

Aku kadang menyempatkan diri berdiri di belakang jendela. Tak melakukan hal lain — sambil mengasap pun tak pernah. Tatapan ke depan bersua tembok tetangga. Menoleh ke samping melihat pintu pada masing-masing ujung lorong.

Berdiri di belakang jendela, masihkah kita semua sempat, bahkan hanya tiga menit, sama panjangnya dengan rata-rata lagu, tanpa memegang ponsel yang dapat menjangkau dunia luar tanpa batas, sampai lupa waktu?

4 Comments

Zam Minggu 22 Februari 2026 ~ 14.49 Reply

di Jerman bahkan ada aturan bahwa setiap bangunan harus ada jendela yang bisa dibuka untuk cahaya alami dan ventilasi udara.

Pemilik Blog Minggu 22 Februari 2026 ~ 18.10 Reply

Nah, penting itu!
BTW pernah lihat foto perumahan di Jepang, harus sisi atap miring agar pagi hari setiap rumah dapat cahaya matahari

warm Kamis 19 Februari 2026 ~ 12.35 Reply

saya paling suka duduk dekat jendela, apalagi pas di kantor. syukurnya keinginan untuk pindah duduk dekat jendela akhirnya kesampaian beberapa minggu silam. rasanya aliran udara lebih mantap dan dunia lebih nyaman dinikmati dan dijenguk sesekali

Pemilik Blog Kamis 19 Februari 2026 ~ 14.58 Reply

Betooollll. Kalo dapat lanskap luas juga bagus untuk kesehatan mata dan relaksasi. Saya menyukai tempat dekat jendela, antara lain dapat cahaya alami, dan tahu perbedaan siang dan malam. Di tempat tertutup tanpa jam dinding seperti berada dalam kasino 😁

Tinggalkan Balasan