
Bagus, sampah produk elektronik akan banyak berkurang setelah pisang dapat menggantikannya. Itulah yang saya pikirkan saat menyeberangi pertigaan kemarin selepas senja, pukul setengah tujuh. Lihat saja ada pisang di atas meja bertaplak plastik bekas spanduk.
Betul, penjual pisang ini memanfaatkan spanduk bekas. Sebuah cara berhemat yang bijak dan masuk akal. Lembaran plastik spanduk termasuk kuat. Sebagai barang bekas bisa gratis. Memperpanjang masa pakai spanduk, dengan mengalihkan fungsi, berarti menunda jadi sampah.

Lebih dari sekali saya menulis ihwal spanduk bekas. Misalnya untuk atap becak dan tabir surya warung. Intinya adalah pakai ulang. Pramono Anung dan Rano Karno saat Pilgub Jakarta mengingatkan pendukungnya agar memanfaatkan baliho bekas materi kampanye untuk tikar dan lainnya.

Sebenarnya pada era spanduk kain pun sudah ada yang memanfaatkan barang bekasnya. Lebih dari sekali, dulu, sebelum era blog, saya melihat tukang becak dan pemulung mengenakan baju dan celana kolor dari kain bekas spanduk.
Setelah era blog, pada 2011, saya melihat orang tiduran di atas hamok (apa sih bahasa Indonesia untuk hammock?) berbahan kain spanduk bekas di Taman Langsat, Kebayoran Baru, Jaksel. Saat itu taman tersebut masih dipagari, belum seterbuka sekarang. Itulah area saya memintas jarak dari dan ke Blok M saat saya masih berkantor di Jalan Langsat.

