
Beberapa bulan belakangan ada satu hal yang membedakan Alfamart dan Indomaret. Di Indomaret ada rokok murah legal. Harganya di bawah Rp12.000 per bungkus, isinya 12 batang. Legal karena berpita cukai resmi. Jenisnya SKT (sigaret kretek tangan). Artinya bukan sigaret kretek mesin (SKM) yang berfilter. Harga termurah SKM legal isi 12 batang Rp22.000.

Rokok dari pelbagai produsen itu dipajang dalam rak pemampang kecil di meja kasir, bukan dalam rak di belakang kasir. Ada tulisan “produk UMKM”. Kalau rak rokok di belakang kasir itu sudah diatur penataannya, ada pedomannya, menyangkut perjanjian induk minimarket dengan pemasok.
Sebelum masuk Indomaret, rokok-rokok murah itu hanya ada di warung tertentu, kadang bercampur dengan rokok ilegal, atau di lokapasar namun tak dapat dipesan melalui aplikasi, cuma bisa melalui laman web.

Di Klik Indomaret, membeli rokok via aplikasi juga tidak bisa, hanya dapat melalui web. Untuk apa? Membatasi peredaran agar tak mudah diperoleh.

Google Play Store memang melarang penggunaan aplikasi untuk pembelian produk tembakau dan vape. Jika pedagang membandel, aplikasinya akan distop.

Kenapa rokok makin mahal? Karena tarif cukai dinaikkan terus lima tahun belakangan. Untuk apa? Membatasi konsumsi produk tembakau demi kesehatan masyarakat dan meningkatkan pendapatan negara bukan pajak.
Manakah yang lebih tercapai, konsumsi turun ataukah isi kocek negara bertambah, sila Anda cari sejumlah rujukan. Ada sih rokok legal yang cukainya nol persen, tak bertembakau melainkan daun talas, sonder nikotin.

Penggolongan tarif cukai itu berdasarkan jenis rokok dan kapasitas produksi. SKT dibuat secara manual, sehingga menyerap tenaga kerja, cukai per batangnya lebih rendah.
Sedangkan SKM, karena dibuat dengan mesin — mesin kelas biasa menghasilkan 500 batang per menit, dan mesin canggih bisa di atas 7.000 batang per menit — dicukai lebih tinggi.

Pabrik besar bermesin andal bisa menghasilkan 10 juta batang per hari, dalam tiga kali gilir kerja, didukung mesin pengemas yang mampu menghasilkan sampai 400 bungkus per menit.
Penggolongan jumlah produksi paling tinggi adalah tiga miliar batang per tahun, cukainya paling mahal, bisa sampai 1:1. Artinya sebatang rokok seharga Rp1.000 kena cukai Rp1.000 juga. Maka rokok buatan produsen besar itu mahal.
Adapun penggolongan produksi terendah tanpa batas berlaku untuk cerutu (CRT) dan rokok kelembak menyan (KLM), karena serapan pasarnya rendah. Philip Morris, pemilik PT H.M. Sampoerna Tbk, pada awal 2020 memasarkan Marlboro Crafted, tanpa cengkih, status produknya KLM, setara dengan Sintren dari Gombong dan Djolali dari Magelang, sehingga tarif cukainya rendah.
Akhirnya pemerintah tahu, dan ogah terkecoh, sehingga Marlboro Craft bukan lagi KLM melainkan sigaret putih tangan (SPT). Tentu sigaret putih tanpa filter bisa dibuat dengan mesin, lebih halus lintingannya dan rajangan tembakaunya, seperti Lucky Strike dan Camel klasik, namun akan diselomot cukai tinggi.

Tahun ini cukai rokok tidak naik agar produsen tak mengeluh. Untuk menata rokok ilegal, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sedang melegalkan rokok ilegal dengan memungut cukai bertarif khusus.
Alasannya, dalam bahasa saya, daripada negara rugi tak dapat setoran cukai, dan produsen legal merasa diperlakukan tak adil karena pasarnya digerogoti bandit, lebih baik ditata.
November lalu Purbaya sudah menurunkan tim ke sejumlah sentra industri rokok ilegal. Anggota tim juga dari partikelir. Misalnya konsultan pajak bekas pegawai Ditjen Pajak Kemenkeu.
Tentu ada pertanyaan besar: kalau rokok legal juga ada yang murah, bagaimana dengan niat pemerintah untuk mengurangi konsumsi rokok? Dengan penegakan hukum lembek, rokok ilegal tak dapat diberantas karena melibatkan beking. Kompas pernah menginvestigasi mendalam soal itu.
Oh ya, di Amerika tahun 1920-an, mafioso legendaris Al Capone berjaya antara lain karena berbisnis miras ilegal setelah pemerintah sempat melarang produksi sampai pengangkutan minuman beralkohol.
Kembali ke rak rokok UMKM Indomaret, di sana ada Bentoel SJT — dulu: Bentoel Sejati. Apakah Bentoel termasuk usaha mikro kecil dan menengah? Pada awal 2024, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), yang dimiliki BAT, sudah delisted dari BEI, sehingga menjadi perusahaan tertutup.

Modal usaha mikro itu maksimum Rp1 miliar, sedangkan usaha kecil Rp1 miliar – Rp5 miliar, dan usaha menengah Rp5 miliar – Rp10 miliar. Perusahaan kecil rokok (PR) legal ada yang CV. Kalau yang ilegal biasanya dimiliki perorangan, melibatkan tim kerja komunal, yakni tetangga, sehingga warga melindungi produsen saat digerebek polisi dan Bea Cukai. Merek rokok ilegal ditentukan oleh distributor.
Tentang rokok Poetri, yang juga dijual di Indomaret, itu buatan PT Putri Tembakau Indonesia, Semarang, milik Awalia Rismala (30), the real gadis kretek, yang menjadi pelinting rokok saat berusia 13 pada 2009. Perusahaan itu dimiliki oleh Amalia dan Dokter Damayanti Zahar, anggota Medicins Sans Frontieres/Doctors Without Borders.
Lho, dokter kok punya pabrik rokok? Oei Hong Djien (OHD, 87), kolektor lukisan yang punya museum seni rupa itu, seorang dokter patologi anatomi yang juga juragan tembakau dan grader kampiun tembakau.
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan, tak mewakili kubu pro-tembakau maupun anti-tembakau

2 Comments
Baru tahu daun talas bisa dijadikan rokok. Untung belum ada yang menjual rokok dari daun kecubung. Atau sudah ada?
Wah daun kecubung dan jamur telethong, bisa kacau anak-anak