Barber di sini dijamin fun

Kini tukang cukur dengan ruang ber-AC, dan menerima pembayaran via QRIS, masuk kampung.

▒ Lama baca < 1 menit

Fun Barber, Masjid Al Barokah, Jalan Al Amin, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Dalam dunia perawatan diri pria selama dua puluh tahun terakhir ini ada yang menarik. Apa? Pertama: kata barber makin luas diterima, juga dalam percakapan, ketimbang tukang cukur. Kedua: barber dengan ruang ber-AC kian menyeruak hingga ke perkampungan dengan gang sempit.

Tadi senja saat saya berjalan kaki ke perkampungan di luar kompleks saya dapati barber baru di tikungan, menempati ruang di bawah masjid. Desain grafis spanduk berdiri itu rapi, pilihan warnanya sip, dengan memasukkan elemen ala barber pole merah biru. Barber itu menerima pembayaran via QRIS.

Fun Barber, Masjid Al Barokah, Jalan Al Amin, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Biaya mulai Rp15.000. Saya tak tahu kalau ditambah merapikan, atau malah membabat licin, kumis jenggot cambang bauk tambah berapa. Eh, apa sih bedanya janggut, jenggot, dan cambang bauk?

Fun Barber, Masjid Al Barokah, Jalan Al Amin, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Janggut bisa berarti jenggot dan juga dagu. Jenggot adalah bulu pada dagu. Sedangkan cambang bauk, sering dijumpai pada bacaan lama, serupa jenggot, juga tumbuh di pipi, namun ditambahi bauk, yakni bulu yang tumbuh di antara dagu dan leher. Silakan Anda cek di KBBI.

Berapa sih tarif barber kampung dulu? Dalam pos Desember 2014 yang fotonya raib, untuk cukur kepala Rp8.000, dan jenggot Rp3.000. Tetapi siletnya tak sekali pakai buang. Alat cukur dan perlengkapannya tak disterilkan. Pun tanpa handuk beruap dari kotak seperti microwave oven. Kiosnya sonder AC, lantainya di atas kali, di pangkalan angkot CH yang kini jadi polder.

Kios lain, namanya Necis, dengan AC, di seberang Pondok Gede Asri, Jalan Raya Pondokgede, Kobek, Jabar, lebih mahal tetapi saya lupa tarifnya pada 2014. Kios ini belum memakai kata barber.

Soal kata asing yang mudah diserap selain barber adalah laundry. Bedanya, kata penatu maupun binatu kadung lenyap dari bahasa percakapan sehingga banyak orang tak tahu kedua kata itu.

di seberang Pondok Gede Asri, Jalan Raya Pondokgede, Kobek, Jabar — Blogombal.com

6 Comments

Badu Rabu 28 Januari 2026 ~ 10.43 Reply

pernah nemu kios cukur namanya Akur. strategi yg brilliant. apa pun hasil cukurannya, konsumen nggak bisa komplain :p

Pemilik Blog Rabu 28 Januari 2026 ~ 21.19 Reply

Seperti nama optik di Yogya 😂

Junianto Rabu 28 Januari 2026 ~ 07.02 Reply

Djaman dahoeloe hanya sedikit “barber shop” di Solo, di pusat kota, terkesan bertarif mahal sehingga saya tidak pernah berani masuk😁.

Kini, sama dengan yang ditulis Paman di atas, barber masuk ke kampung-kampung, termasuk di lingkungan saya. Tetap saja saya belum pernah memanfaatkan. Kalau ini bukan soal tarif tapi saya lebih cocok tukang cukur Madura, atau salon kecil dekat rumah (pemilik sekaligus pemotong rambut pria 65-an tahun) yang tarifnya Rp 15.000.

Pemilik Blog Minggu 8 Februari 2026 ~ 21.24 Reply

Dulu banyak salon untuk pria muda. Kalo bapak-bapak ke barber.

Sekarang cewek-cewek yang berpotongan pendek ada yang ke barber. Saya pernah kabarengan waktu belum pelontos. Pekan lalu saya ketemu seorang cewek dewasa yang baru pulang dari barber untuk merapikan rambut jongenskop

Rudy Selasa 27 Januari 2026 ~ 18.08 Reply

Langganan tempat cukur saya ada di sebuah perumahan di Bogor. Kecil saja tempatnya, tak ber AC, dan kapasitasnya dua kursi. Ongkosnya 55 ribu untuk potong pendek, keramas dan dipijat seadanya. Bayarnya pakai QRIS.

Tinggalkan Balasan