
Mbakyu Sayur menghentikan gerobaknya yang dia dorong, kemudian menghampiri istri saya yang sedang duduk berjemur di belakang garis pintu carport. Mereka bercengkerama. Si Mbakyu melontarkan harapan serba-baik untuk kesehatan istri saya.

Saat ikut menyimak perbincangan, mata saya tergoda sekuntum bunga kemboja dari halaman tetangga depan, yang tetap tergeletak di samping roda gerobak. Lalu klik, saya foto dengan ponsel saya. Misalnya bunga itu tergilas roda, mungkin juga akan saya jepret.

Lebih dari sekali saya memotret guguran kemboja tetangga. Bahkan daunnya yang jatuh di atas genangan air pun saya abadikan. Bahkan ada yang saya taruh mangkuk untuk hiasan di rak. Lantas saya foto dan poskan di blog wagu ini. Saat itu kualitas foto ponsel lebih bagus. Untuk kemboja sekarang saya harus menyunting ruang tajam seperti dalam foto pertama. Hasilnya tak wajar. Apa boleh buat.

Lalu kenapa saya memotret kemboja lagi tadi pagi? Karena impuls. Inilah salah satu faedah ponsel pintar bahkan yang termurah sekali pun: untuk memotret. Setiap kali tergerak memotret sesuatu, misalnya kemboja tetangga, ada konteks baru. Pagi tadi kemboja menjadi saksi kondisi istri saya membaik, bisa berjemur sebentar karena hujan reda dan berjeda, untung rumah kami tak kebanjiran. Tentu foto dia berjemur tak saya tampilkan di sini.


4 Comments
Semoga bibi (istrinya paman) lekas pulih kembali ya, Paman.
Di depan rumah saya ada pohon kamboja. Dulu saya memotong satu batang kamboja dari rumah teman dan saya tancapkan di pekarangan saat awal pindah ke rumah ini.
Sekarang bunganya sering kami petik dan gunakan sebagai pewangi kamar mandi.
Suwun. 🙏
Sayang saya tak punya halaman untuk menanam kemboja 😇
Semoga Nyonya makin membaik ya, Bang Paman. Sinar matahari muncul hari ini konon krn modifikasi cuaca..
Suwun Mbak Mpok 🙏💐👍