
Bukan hal baru, namun bagi saya konten kantor berita Associated Press (AP) ini menarik karena tegas menyatakan bahwa konten tentang Xiaomi bukan dari redaksi. Konten itu tanpa tanggal bulan tahun, namun saya lihat hari ini (Sabtu, 18/1/2026). Saya tahu dari cuitan AP di X.
Artinya pagar api, atau garis api, mereka patuhi. Itulah garis yang dibuat setiap media berita, yang berlandaskan pada etika kerja dan lembaga.
Sudah beberapa kali saya menyinggung pagar api (firewall) media berita dalam blog wagu ini, sehingga tak saya ulangi.
Bagaimana dengan blog pribadi? Terserah setiap pemilik blog karena blog bukan media berita. Zaman ndak enak, ketika blog masih menggairahkan, beberapa penitip konten berbayar mundur karena saya akan memasukan pesan mereka ke kategori, semacam rubrik, advertorial. Pemasang yang dapat menerima antara lain Nukman Luthfie (1964–2019).
Ada pula calon penitip pesan berbayar yang menawari black campaign terhadap kompetitor klien. Saya tak punya masalah dengan produk klien mereka maupun pesaing, dan misalnya pun menulis baik atau buruk bukan karena dibayar.
Apakah saya sok menerapkan pagar api? Tidak. Apakah saya bloger sok idealis? Bukan. Saya bersikap dan berlaku dalam ngeblog sesuai kenyamanan saya. Tentu saya pernah salah sehingga membuat orang tak suka. Saya mohon maaf.
Dulu ketika saya memimpin majalah, bukan media berita, saya menolak permintaan bagian bisnis agar membuat iklan terselubung supaya (calon) klien mereka senang. Saya juga menolak permintaan menunda sebuah tulisan kecuali perusahaan yang tersebutkan dalam naskah bersedia memasang iklan. Salah satu alasan saya, tema konten sudah kami rancang lama, bahkan setahun di muka, masa harus tertunda demi iklan yang mestinya bisa digaet lebih awal.
Atas nama kenyamanan pula dulu, pada era bloger seolah dibutuhkan oleh kalangan pemasar, akhirnya saya menghindari undangan pembukaan kafe baru. Dianggap asosial, atau malah suka minder, ya biar, karena saya tak tahan ditagih kok foto dan tulisan tentang kafe dan acara tak muncul dalam blog saya. Para pemasar akhirnya juga malas mengundang saya.
Dalam ngeblog, ada juga pengusaha yang akan mengirimkan produk dan barang lain, atau fasilitas, sebagai ucapan terima kasih karena saya tulis, padahal mereka tak meminta. Dengan santun dan halus saya tolak, yang kalau dalam kalimat lugas karena saya menulis bukan untuk diberi hadiah. Tentu berbeda kasus jika dalam sebuah acara semua hadirin, apalagi tak hanya wartawan dan pegiat media sosial, mendapatkan cendera mata dan makan minum.
Bahkan dulu ada yang menganggap saya semugih, atau sok kaya, tetapi ya biar saja. Artinya mereka tahu bahwa saya memang tidak beruang. Gitu aja kok repot.

