
Saya tak hendak menambahkan tafsir Butet Kartaradjasa terhadap lukisan karya Sigit Santosa. Tangkapan layar pos Butet di Facebook sudah beredar lintas pelantar (platform), termasuk via WhatsApp.
Tentu setiap orang berhak memiliki tafsir yang berbeda. Namun saya terkesan oleh kata “bagal” yang ditulis oleh Butet:
Quo Vadis artinya mau kemana. “Quo Vadis, Quixote?” Adalah pertanyaan kepada Quixote, seorang yg merasa dirinya seperti ksatria, yg seharusnya berjuang dengan menunggang kuda besar perkasa bukannya bagal kecil dungu hasil pinjaman dari pembantu setianya bernama Sancho Panza.
Kesan saya tak semua orang tahu bagal karena kata ini jarang disebut dalam tulisan maupun percakapan. Jika hal itu benar, wajar saja. Sebuah kata hanya hidup di kalangan luas penutur jika sering tersebutkan.

Pada 2008 saya pernah menyebut bagal dalam pos di blog wagu ini, karena membahas cara membedakan zebra jantan dan betina dari kejauhan.

Adapun teks dalam gambar andalan dalam judul pos, yakni “Badhé tindak pundi, punapa?” adalah bahasa Jawa krama, yang jika diindonesiakan menjadi “Hendak pergi ke mana, bukan?”, atau kalau diterjemahkan secara harfiah menjadi, “Mau ke mana, apa?” Orang yang ditanya biasanya bingung.

