
Dari pelataran mal Puri Daan Mogot, Kalideres, Jakbar, saya lihat papan nama di ruko seberang: Warteg. Singkatan warung tegal atau warung Tegal — manakah ejaan yang benar silakan menanya guru bahasa Indonesia.
Karena belum sarapan, saya pun tergoda untuk mencicipi. Bisa jadi alternatif untuk kedai yang lebih mahal di Daan Mogot Baru, terutama di kompleks Bale.

Warungnya resik. Rak kaca memaksa orang untuk berdiri mengantre, berujung ke meja kasir. Jadi berbeda dari umumnya warteg yang kotak kacanya berhadapan dengan bangku.
Di situ tak ada orang makan sambil menaikkan kaki ke bangku sehingga lututnya menyembul di depan meja. Tiada tisu di lantai. Tak ada orang merokok karena dilarang. Soal rasa? Untuk ukuran warteg enak.

Adapun soal harga, sedikit lebih mahal daripada warteg kemproh-kemproh sedap. Saya memesan nasi kurang dari seperempat porsi, tetapi karena dicetak dengan mangkuk tengkurap di atas piring jadi tampak banyak, dan tetap dihitung separuh. Trik ini dilakukan oleh banyak kedai, juga katering, tetapi bagus untuk membatasi karbohidrat.

Umumnya porsi nasi warteg memang banyak. Cocok untuk orang yang butuh kalori banyak untuk bekerja. Kalau di warung padang, atau warung Padang, porsi nasi untuk dibawa pulang bisa sampai dua kali lebih dari porsi makan di tempat. Saya pernah mengamati dan memotretnya, mestinya sih bikin video.

Kata tukang langganan saya, “Sekarang makan di warteg cuma beda harga dikit dari warung padang murah. Apa-apa kok mahal nggih, Pak.”
Di warteg ini, lauk yang berukuran besar oleh pramusaji ditaruh di piring terpisah. Meskipun suka nasi rames, saya kurang suka sepiring nasi berjejal lauk. Tetapi untuk nasi gudeg lengkap saya kadang menoleransi. Di warung Sunda swalayan, saya suka piring terpisah untuk lalapan dan lauk.


6 Comments
Di Solo mulai muncul waralaba Warteg Kharisma Bahari. Di lingkungan saya belum lama ada dua, dari luar terlihat bersih dan rapi, saya sudah berencana menjajal mbungkus alias take away tapi belum kesampaian.
https://ekonomi.espos.id/permintaan-tinggi-ini-strategi-warteg-kharisma-bahari-ekspansi-bisnis-di-solo-1658440
Wah akhirnya sampai Sala, kota dengan banyak hidangan sedap
Oh iya ada juga yang menyebut diri sebagai warteg premium. Sejauh saya tahu, ada satu di pinggir jalan protokol, Jalan Yos Sudarso.
Saya sering lewat, melihat warteg premium itu sepi pembeli. Kemarin saya lewat, ternyata lokasinya sudah dipakai untuk kopitiam — warteg premiumnya pindah entah ke mana, atau bangkrut.
Warteg kok pakai atribut premium. Di Jaksel dulu ada warteg bersih, terang, rasanya biasa saja, tapi laku.
Cara warteg di Kalideres mungkin bisa ditiru. Bersih, pake meja terpisah, no smoking.
Saya nggak suka tempat sempit ada yang merokok 🙈
berasa hawa-hawa kantin..
Betooollll