Hadiah Natal berupa foto kenangan

Foto meja kerja masa lalu saya bagikan di sini. Kalau masih kerja malah takkan saya publikasikan.

▒ Lama baca 2 menit

Meja kerja Blogombal.com di Jatibaru, Jakpus

Foto ini jepretan Selasa Pahing 6 Februari 2018, saya terima sebagai hadiah Natal 2025. Bukan ucapan selamat Natal karena pemotretnya mengunjungi rumah saya, sehari setelah Natal. Dia yang pernah menjadi sejawat dan satu tim dengan saya itu seorang dokter hewan yang berbelok menjadi komikus dan ilustrator.

Foto itu adalah meja kerja saya di Jatibaru, Jakpus. Yang tampak menonjol adalah papan nama meja dengan tulisan “istirahat”. Kalau arah hadapnya saya balik, tulisannya “tutup”. Lalu kapan kerjanya?

Bukan salah saya. Itu salah si pembuat papan nama meja karena hanya membuat dua sisi. Kalau akrilik ini dibuat segitiga memanjang akan ada tiga sisi, sehingga sisi ketiga bisa memuat teks, misalnya, “cuti”.

Papan nama ini saya beli di toko buku Gramedia, Gandaria City, pada 2011. Ketika saya pindah kantor, 2015, akrilik merah ini saya bawa. Oktober 2019 saya selesai bekerja di sana.

Selama bekerja saya tak pernah ambil hak libur sehari dalam lima hari kerja. Tanggal merah pun saya sering bekerja. Belum musim WFH, karena belum ada Covid-19, kadang saya bekerja dari rumah, atau tempat lain termasuk kedai kopi, terutama akhir pekan dan hari libur nasional.

Satpam tahu, saya sering datang lebih dulu dari OB dan petugas kebersihan. Sayalah yang membuka pintu kantor. Tak selamanya saya masuk pagi. Kadang saya masuk kantor malam, pernah dari rumah sepuluh malam, lalu lintas sangat lancar, kantor tak ramai orang, bahkan kadang sudah kosong. Menyenangkan. Saya kurang suka lingkungan kerja yang riuh. Tetapi saya kalau sendirian senang menyetel musik agak lantang. Saya tak tahan memakai headphone.

Saya menggunakan dua meja setengah biro, saya jejer. Satu meja sepaket dengan kotak laci beroda. Salah satu kotak laci, pada sisi samping, saya halangi dengan pengikat barang untuk sepeda motor. Lihatlah lis merah horizontal dalam foto.

Jika Anda bertanya mengapa, inilah sebabnya: lantai gedung kantor saya, bangunan empat lantai termasuk lantai dasar, buatan akhir 1970-an, itu miring sehingga kotak laci beroda, juga kursi beroda, bisa pindah tempat sendiri ke arah samping.

Kenapa lantai bisa miring? Banyak bangunan di Jakpus amblas sedikit karena air tanah disedot melebihi batas. Intrusi air laut sudah sampai sekitar Monas.

Dalam gambar tampak dua lampu meja IKEA. Lampu itu saya gunakan ketika saya sendirian di kantor, malam sampai pagi, supaya tak perlu menyalakan lampu satu blok ruang. Pagi hingga siang jika udara cerah, saya memanfaatkan cahaya alami dari jendela.

Untuk mengerem kursi, dan memberi efek serupa bilik, bos membelikan rak buku sebagai sekat. Selain berisi buku, rak itu untuk karaf-karaf ikan cupang saya dan vas tanaman sirih-sirihan, plus sebuah radio transistor Panasonic.

Ada juga batu bata tak utuh dan bongkahan puing beton, yang saya pungut dari pelataran. Untuk hiasan. Ketika saya membawa masuk bata dan beton, satpamwan bertanya, “Lho, mau nimpe siapa, Pak?”

Adapun roda kotak laci satunya saya kunci sehingga tidak dapat bergeser. Kebetulan kemudian rodanya macet.

Pada dinding di bawah jendela ada sepatu boots kanvas bersol karet dan sepatu olahraga saya. Tak tampak dalam gambar adalah lemari kayu dengan pintu geser. Pakaian saya ada di sana.

¬ Foto: Tito Sigilipoe

2 Comments

mpokb Senin 29 Desember 2025 ~ 19.27 Reply

Ruang kantor seluas itu, sekarang sudah mewah banget ya, Bang Paman. Kebanyakan seruangan besar dikasih meja dan atau kubikel.

Btw, bagaimana nasib papan akrilik itu sekarang? 😀

Pemilik Blog Senin 29 Desember 2025 ~ 19.47 Reply

Terakhir saya dengar kabar, eks kantor itu saat pandemi buat vaksinasi.
Tanah di sana luas, bangunan lama akan diratakan, setelah kaveling buat pasar tasik resik, mungkin nanti ada apartemen dan hotel

Tinggalkan Balasan