
Judul pos ini ngaco, mau bicara bangku atau kursi? Bangku itu tempat duduk tanpa sandaran punggung, sedangkan kursi bersandaran punggung. Nyatanya, sebutan bangku sekolah lebih lumrah. Memang sih ada sekolah darurat yang menggunakan bangku, bukan kursi.
Pakan lalu (Kamis 18/12/2025) halaman depan Kompas memuat foto karya Bahana Patria Gupta, dengan kapsi:
Orangtua bersama anaknya menunggu waktu pengambilan rapor di SD Negeri Ketabang I, Surabaya, Rabu (17/12/2025). Untuk menyukseskan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar), sekolah mengimbau agar pengambilan rapor anak dilakukan oleh ayah. Hal itu merujuk pada Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 14 Tahun 2025. Kegiatan itu mendorong keterlibatan aktif ayah dalam proses pendidikan, tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping, motivator, dan teladan bagi anak.
Saya tak tahu apakah TK, artinya taman kanak-kanak, bukan sekolah, juga menerapkan Gemar. Jika ya, sebaiknya Kompas menampipa foto ayah dalam ruang TK.
Kenapa saya menginginkan adegan foto di dalam ruang TK? Kursi dan bangkunya lebih kecil. Merepotkan bagi ayah atau ibu yang berpinggul lebar dan berperut besar. Atau misalnya ayah yang jangkung setinggi pemain NBA, lututnya yang terlipat saat duduk harus menjauh dari meja rendah. Secara fotografis lebih menarik.
Saya sebagai ayah pernah lebih dari sekali duduk dalam ruang TK. Kebetulan jam kerja saya memungkinkan hal itu. Mayoritas ortu yang hadir adalah ibu-ibu. Teman sekerja maupun teman bergaul dari kalangan ayah juga banyak yang hadir di TK. Bahkan ada yang senang.
Apa? Senang. Kaum girang itu dengan cengengesan bilang, di TK ada guru cantik, muda, dan lebih utama banyak kaum ibu muda cantik, sebelum ada istilah mahmud abas — mamah muda, anak baru satu.
Kata mereka, makin tinggi pendidikan anak makin berkurang bersua ibu muda cantik. Apalagi kalau anak sudah kuliah. Tetapi mereka lupa, saat anaknya sudah besar maka kaum ayah cunihin sudah menua.
Hmmm… saya teringat Hiroshi Nohara, ayah dari Crayon Shin-chan. Dia suka wanita cantik, termasuk guru cantik. Anaknya juga suka. Sebenarnya lumrah sih, tetapi hal itu setau saya jarang menjadi simpul cerita komik maupun film animasi.
Ada seorang teman dari teman saya yang istrinya seperti Misae Nohara, ibunya Shin-chan. Suka cemburu kalau suaminya bersemangat menghadiri acara di TK yang gurunya muda cantik, demikian pula para ibunya. Mungkin mereka seperti Susan Bachtiar, model 1990-an, pernah menjadi model langganan Matahari Department Store, yang setelah lulus kuliah sempat menjadi guru TK.
