
Melihat iklan ponsel Nokia gaya lama, atau feature phone, saya klik gambarnya dan sampai ke laman lokapasar. Itu ponsel baru. Bukan bekas. Lantas saya membayangkan bagaimana kalau saya kembali ke ponsel macam itu, hanya untuk halo-halo, tanpa teks.
Yang langsung terbayang adalah tombol yang bukan QWERTY. Untuk mencari nama berawalan C dalam daftar kontak butuh waktu lebih lama daripada nama berawalan A. Saya juga membuka situs HMD, pembuat ponsel Nokia, untuk mencari tahu ponsel jadul tapi anyar yang mereka sediakan.

Kalau masalahnya adalah tombol QWERTY, alat tambahan juga ada. Android dengan keypad fisik ala BlackBerry juga ada. Tapi kalau feature phone keluaran mutakhir dengan QWERTY, tanpa layar sentuh, entahlah. Telepon satelit macam Thuraya XT-PRO juga tak ber-QWERTY.
Tetapi apakah zaman sekarang saya sanggup hidup dengan ponsel berlayar kecil, tanpa peramban maupun WhatsApp dan Jetpack? Barangkali kalau cuma ingin halo-halo, tanpa texting, pakai walkie talkie ber-SIM card saja.

Sebenarnya ada solusi. Tetap memakai Android atau iPhone sebagai ponsel tunggal, bahkan yang termahal, tetapi semua aplikasi foto, video, media sosial, peramban, aplikasi belanja, dan peta ditidurkan. WhatsApp di-uninstall. Ini baru mewah. Hanya untuk menelepon pakai pulsa. Lalu orang sirik berkomentar, “Dasar OKB aneh dan gaptek.”
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

4 Comments
Sempat kepingin beli Nokia yang 200 ribuan itu untuk nyimpan kartu SIM ketiga, Bang Paman. Jadi nggak perlu bolak-balik ganti kartu SIM di satu ponsel. Tapi akhirnya urung, lagian sudah jarang berhalo-halo dan nanti malah nambah urusan pengecasan juga wkwkwk
Beli walkie talkie yang pake SIM, ngecasnya gak sering katanya 😇
Repot, Paman, lawan bicara harus pakai walkie talkie juga 😀
Oh iya juga ya 😂