
Sepersekian detik saya kaget. Hanya gara-gara sepasang maneken putih separuh badan atas di depan pintu gerbang sebuah rumah, malam hari pula. Lalu dalam hati saya mentertawai diri sambil meneruskan langkah menyusuri jalan remang-remang becek sehabis hujan.

Beberapa kali saya memotret maneken yang saya jumpai. Salah satunya maneken bekas pakai di sebuah rumah, lalu Snydes berkomentar, “dan bisa nakutin orang lewat pas malam 😀”.

Maneken, sebagai istilah baku, dan bukan manekin, kita serap dari bahasa Inggris yang mencomot dari bahasa Prancis: mannequin. Adapun bahasa Parangakik menyerapnya dari bahasa Belanda, yakni manikin, sebelumnya adalah manneken, dari mannikijn, artinya orang-orangan (pria) kecil.

Dalam perjalanan waktu, maneken juga berarti peragawati. Dalam bahasa Indonesia, menurut kesan saya, kini lebih lazim sebutan model. Peragawati dianggap jadul.
Tentang foto maneken, ada satu yang saya anggap karya terbaik saya, yakni maneken di trotoar Tanahabang, depan kios 69, saya jepret dari mobil. Itu foto terbagus dari semua bidikan saya di blog ini. Bagi orang lain entahlah.

