Upahnya rendah, pekerja takut menikah

Jeli memotret untuk foto berita adalah satu hal, dan memilih foto untuk ditampilkan adalah hal berikutnya.

▒ Lama baca 2 menit

Kalau upah rendah mana berani nikah? — Blogombal.com

Upah dan menikah. Kedua hal ini berkelindan. Upah menyangkut nafkah, padahal dalam perkawinan harus ada nafkah karena orang lajang pun membutuhkan nafkah agar dapat melanjutkan kehidupannya. Nah, selama sepekan Kompas dua kali menampilkan foto berita perihal upah, nafkah, dan nikah, karya dua fotografer yang berbeda, juga dari lembaga yang berbeda.

Foto yang tampil di atas termuat dalam edisi Selasa (9/12!2025) di halaman Ekonomi & Bisnis, dengan judul “Buruh Tuntut Pengesahan UMP 2026”. Kapsi foto karya P. Raditya Mahendra Yasa, dari Kompas, bertutur:

Poster kegelisahan buruh terkait rendahnya upah diperlihatkan saat berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (8/12/2026). Mereka menyampaikan tuntutan, antara lain, menolak upah murah dan mendesak pemerintah menetapkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 10 persen pada tahun 2026.

Perhatikan judul berita lain di bawah foto, terasa mendukung kondisi buruh: “Apindo Wanti-wanti Risiko Ekonomi 2026”. Apindo adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Menurut Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam, manufaktur selama ini menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja formal, sekitar 60 persen. Pelemahan kinerja sektor tersebut berdampak langsung terhadap kualitas pekerjaan yang tersedia.

Apindo menyoroti pengangguran di kalangan anak muda yang mencapai sekitar 17 persen. Sebagian besar berasal dari lulusan SMA, dengan tingkat pengangguran 8-9 persen. ”Menariknya, pengangguran lulusan SD justru lebih rendah, sekitar 2 persen, karena mereka tidak memilih pekerjaan, apa saja diambil,” ujar Bob.

ASN adalah menantu idaman — Blogombal.com

Adapun dalam foto kedua, karya Makna Zaezar dari Antara, dengan judul “PPPK Paruh Waktu di Jateng” di halaman Politik & Hukum, yang terbit Jumat (12/12/2025), kapsinya berkisah:

Sejumlah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) melambaikan tangan sambil membawa poster saat mengikuti upacara penyerahan surat keputusan (SK) PPPK di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (11/12/2025). Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyerahkan SK pengangkatan kepada 13.111 PPPK paruh waktu formasi tahun anggaran 2025, terdiri atas 10.129 tenaga teknis dan kesehatan serta 2.982 tenaga guru.

ASN adalah menantu idaman — Blogombal.com

Spanduk dalam bahasa Jawa itu berarti “seisi stadion adalah menantu idaman semua”. Dari pegawai paruh waktu diangkat menjadi pegawai kontrak sebagai ASN berarti ada kemajuan dalam kejelasan nasib karena nafkah terjamin. Layak menjadi menantu. Punya sumber nafkah berarti layak menikah. ASN itu terdiri dua kategori, yakni PNS dan PPPK.

Lalu apa lagi yang akan saya ceritakan? Justru ini yang utama. Bagi jurnalis, jeli dalam memotret itu penting, namun di atas itu ada editor foto yang selain jeli juga punya makrifat sesuai profesi dalam memilih foto untuk dia tampilkan sesuai khitah setiap media dan pembaca sasaran.

Keasyikan dan sekaligus tantangan seorang editor foto adalah dalam memilih dan menugasi perolehan foto, terutama untuk media yang punya beberapa fotografer andal dan melanggani foto dari pelbagai agensi.

Memang sih ada media berita yang menempuh jalan cincai dalam urusan foto. Ambil foto dari mana saja tanpa atribusi bukan masalah. Memiliki fotografer sendiri hanya menambah biaya redaksi. Mungkin mereka ingin setiap penulis adalah fotografer yang baik, begitu pula sebaliknya, supaya hemat ongkos.

2 Comments

mpokb Minggu 14 Desember 2025 ~ 01.57 Reply

Sebelum ada AI, orang sudah main comot, Bang Paman. Jepretan saya di blog pribadi jaman dagdigdug.com pernah dicomot untuk artikel berita online, wkwkwk

Pemilik Blog Minggu 14 Desember 2025 ~ 08.18 Reply

Yah begitulah.
Bukan hanya foto, infografik dan tulisan saya pun dicomot untuk situs berita
Ada yang oleh awak redaksi, ada yang oleh kontributor. Bahan infografik dikrop, supaya nama saya gak muncul. Ini soal mental. Kalo karya mereka dicomot, apalagi jika konten kita menghasilkan uang, mungkin marah.

Tinggalkan Balasan