
Saya sebut saja cakram berkilau dengan pantulan spektrum warna itu CD. Padahal mungkin DVD. Benda itu tergantung di sebuah teras, menggeleng-geleng terembus angin, saya lihat senja tadi di sebuah teras rumah pada gang sempit. Sudah jarang saya mendapati cakram padat media simpan sebagai hiasan.
Lho apa menariknya dari media simpan compact disc hasil kolaborasi Philips Belanda dan Sony Jepang yang diluncurkan pada 1982 itu?
- CD (diameter 120 mm) merupakan kelanjutan LaserDisc (300 mm, 1978), dan akhirnya CD, kemudian DVD, lebih populer
- Di Indonesia CD, berupa VCD, lalu DVD film dan gim, lebih populer ketimbang CD audio versi rekaman musik legal
- VCD dan DVD bajakan, dengan harga murah, jauh meninggalkan CD audio, apalagi sekeping CD ilegal berisi ratusan lagu berformat MP3, yang diputar di komputer, head unit mobil, hingga audio dan video player rumahan
- Bahkan harga pemutar CD audio, apalagi yang bisa memutar SACD, bisa lebih mahal daripada pemutar DVD — memang sih ada alasan teknis untuk hal itu
- Begitu berlimpahnya kedua jenis cakram itu sehingga mudah menjadi sampah, namun dari ruang kemudi mobil angkutan umum dan barang hingga rumah tangga ada saja yang menjadikan CD rusak sebagai hiasan
- Lama-kelamaan orang bosan dengan hiasan berupa cakram
Anehnya pada masa jaya LD, tak banyak orang menjadikan cakram besar itu sebagai hiasan. Mungkin karena harga pemutarnya mahal, LD bajakan pun setahu saya tidak ada, untuk memutarnya, kalau punya LD player, harus menyewa.
Sedangkan vinyl record atau piringan hitam bekas, yang penuh goresan, hingga kini masih ada yang menjadikannya sebagai hiasan. Apalagi sepuluh tahun belakangan ini vinyl dan turntable berjaya lagi.
Lalu tamatkah CD audio? Ada gelagat CD digemari lagi, demikian pula pemutarnya, karena ada saja orang yang tak puas dengan kompresi pengaliran musik (streaming).
Meskipun demikian, pita kaset masih ada yang menggemari. Ada sensasi analog vintage. Bahkan tape deck bekas pun laku.

6 Comments
kaset koleksi saya dulu yang memang tak banyak betul masih disimpan di box, beberapa CD juga masih, beberapa barusan dibuang beberapa bulan yang lalu
pemutar CD yg ga ada lg sementara walkman utk muter kaset malah ada
Wah awet betul itu Walkman 👍👏
sebenarnya saya baru beli bekasan bbrp tahun silam, soalnya dulu waktu awal ada saya belum mampu membelinya, walau harganya di tahun 1997 rasanya sekitar 100rb saja, tapi gaji saya waktu itu cuma 110 ribu, paman hehe
Saya dapat cassette recorder kecil stereo kecil yang serupa Sony Walkman merek Aiwa karena barang ilegal dari kapal, di Glodok. Ada wired microphone bercabang dua, kalo denger hasil wawancara sungguh stereo kanan kiri
Mungkin sudah gak dipakai, karena pemutar rusak, tapi dibuang kok sayang dan belum tahu bisa didaur ulang jadi apa, Bang Paman.
Ada satu CD bekas yang saya jadikan tatakan gelas 😀
Aha! Salut, jadi tatakan gelas.
Malu saya mengakui sebagai penyampah CD.
Dulu saya biasa beli satu stoples CD buat nyimpen berkas desain untuk saya bawa ke jasa cetak digital, termasuk bikin spanduk dan kaus. Itu semua CD-R, bukan CD-RW, hanya sekali tulis dan pakai. Kenapa saya tak pakai USB flash disk karena takut tertulari virus.