
Kopi luwak arabika dari Bali ini enak. Tidak pahit asam. Tetapi bagaimana penjelasan cita rasanya, saya tak dapat menuliskannya karena saya hanya penyuka kopi, bukan seorang coffee aficionado yang dapat menilai kopi saat melakukan cupping dan paham A sampai Z dunia kopi, dari kebun sampai cangkir. Seorang perokok pun belum tentu dapat menilai tembakau dan cerutu, bukan?

Lalu kopi ini enak karena asli dari sisa luwak secara alami atau bagaimana? Saya tidak tahu. Apakah dari luwak yang keluyuran di kebun kopi ataukah dari kandang, saya juga tak dapat membedakan. Namun saya menghormati sertifikat autentikasi untuk hal apa pun. Kalau ijazah palsu atau ijazah hasil memesan saya tak peduli kecuali ada yang memberi tahu.

Mengumpulkan satu kuintal biji kopi dari hasil memunguti buangan luwak tentu bukan pekerjaan santai. Itulah perlunya jaminan keaslian. Seperti pabrik air minum dalam kemasan, yang disebut air mineral, harus dapat menjelaskan dari mana dan bagaimana mengambil airnya.

Maka saya teringat iklan kopi susu kuda liar, dahulu kala, antara lain di stasiun radio. Di M97FM, radio klasik rock kelolaan grup Masima (Prambors) itu, sebelum tutup, dulu kerap muncul adlibs susu kuda liar yang berfaedah bagi pria.

Setiap kali mendengar Febrira Ifeb Ghalib, sang penyiar, mempromosikan itu saya membatin bagaimana cara menangkap kuda betina liar di stepa lalu setelah terpegang bagaimana memerah susunya. Saat itu belum ada YouTube dan konten video lainnya, juga sertifikat, untuk membuktikan susu kuda liar itu autentik.
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

2 Comments
Waa.. Mantul.. Pasti enak ini hasil karya luwak 😄
Saya sih gak bisa bedain kopi luwak dan bukan luwak 😇