Tetirah murah bahkan percuma

Ketenangan suasana itu mahal, namun bisa didapatkan tanpa menyepi ke tempat berbayar.

▒ Lama baca < 1 menit

Rehat rehat di Cimindi, Cibabat, Cimahi Utara, Jabar — Blogombal.com

Saya sambut ajakan pergi ke sebuah tempat sejauh 136 km, di rumah mbakyu ipar saya di Jabar. Tak perlu keluar ongkos, cuma duduk manis dalam mobil, urusan mengudap ada yang menanggung.

Semuanya percuma, dalam arti gratis, menurut makna yang arkais, seperti dalam lirik lagu anak-anak “Naik Kereta Api”. Apakah jika diajak ke tempat lain saya juga akan girang? Belum tentu.

Di rumah Mbakyu saya bisa istarahat. Makan, tidur, ngobrol atau membaca di teras, duduk di buk pinggir kali seberang rumah. Semuanya dalam udara sejuk, badan saya tak berkeringat, bahkan sore hari suhu 23–24° C. Jarang sekali motor dan mobil orang luar yang melintas padahal bukan di lingkungan kluster.

Selama tetirah, saya tak tertarik bepergian ke kota. Biarlah anggota rombongan lain, yakni ibu-ibu, yang keluar antara lain untuk mengudap dan bersua kawan. Saya menyukai tempat tenang di lingkungan hunian Mbakyu, di pinggir kali kecil yang berbatasan dengan turap tebing dan tembok beton setinggi delapan meter lebih, pembatas kompleks perumahan besar mahal.

Bantaran kali menjadi taman kecil memanjang, berisi tanaman hias, tanaman bumbu dapur, dan pohon buah, kicauan burung tiada henti. Kali tidak bau, airnya tak menghitam, airnya lancar mengalir. Bantaran kali di sisi tebing bertembok berisi rumpun bambu.

Rehat rehat di Cimindi, Cibabat, Cimahi Utara, Jabar — Blogombal.com

Apakah karena faktor usia sehingga saya menyukai ketenangan? Sebagian demikian, tetapi sejak muda saya tak menyukai kebisingan. Maka saya kurang suka kedai dengan live music maupun tata suara keras, tetapi kalau musik akustik pelan dan sepiker dinding atau plafon dengan musik ambient saya suka, terutama light music, instrumental.

Kantor yang riuh dengan banyak pegawai saya juga kurang suka. Alasan saya datang ke kantor sebelum cleaning service dan OB datang, sehingga saya harus membuka pintu sendiri, selain untuk menghindari kemacetan adalah ingin mendapatkan suasana kantor yang tenang. Demikian pula alasan saya masuk kantor, di tempat kerja terakhir, pukul delapan malam dan sesekali pukul sepuluh malam.

Memang sih, untuk ruang kerja di kantor saya suka yang bisa sendirian, dan menyetel hi-fi mikro dengan subwoofer. Tidak mengganggu orang lain. Kalau tidak bisa leluasa, saya memilih bekerja sendirian di kantor, malam sampai pagi, agar bebas menyetel musik. Tentu tak perlu musik nonstop. Kadang sepi, sampai suara dispenser, AC, dan kulkas terdengar.

Rehat rehat di Cimindi, Cibabat, Cimahi Utara, Jabar — Blogombal.com

5 Comments

mpokb Sabtu 22 November 2025 ~ 20.27 Reply

Tampak nyaman dan adem sekali lingkungan rumahnya, Bang Paman. Cocok banget buat tetirah. Untuk ukuran sekarang, lingkungan hening di tengah kota itu mewaah…

Pemilik Blog Sabtu 22 November 2025 ~ 21.17 Reply

Betooollll. Tempo hari beli gudeg Yogya di Cibubur, ternyata di tengah perumahan mewah sebelah Trans Studio. Lingkungan adem dan tenang. Banyak pohon. Ada spanduk di pintu masuk dilarang membunyikan klakson.

Ada perumahan di pinggir tol JORR di kawasan saya, juga teduh dan tenang, tapi harganya hwduhhh.

Di dekat saya juga ada yang serupa itu, asri, adem, tenang, petugas kebersihan lingkungan pake seragam, salah satu tugas satpam adalah nangkao ular

Junianto Sabtu 22 November 2025 ~ 08.13 Reply

Paman dahoeloe bisa kerja seeenaknya eh senyamannya karena kumendan — punya ruang kerja sendiri, dll. Tentu beda dengan saya dan lainnya yang bukan kumendan 😁.

Pemilik Blog Sabtu 22 November 2025 ~ 21.23 Reply

Saya bukan kumendan, tapi kebetulan lingkungan kerja bisa menoleransi. Yang penting output tinggi melebihi target. Di tempat kerja terakhir, sejawat dan BOD bisa lihat kinerja saya, sering kali hanya dikalahkan oleh robot AI. Sebenarnya AI bisa disuruh lebih produktif sih 🫣

Tinggalkan Balasan