
Senja pukul enam lebih sembilan, menjelang hujan, saya lihat pagar rumah kosong itu sudah ditempeli plakat larangan membuang sampah. Padahal pekan lalu belum ada tulisan itu. Namun ada yang menarik dalam kalimat, bukan “dilarang membuang…” melainkan “jangan buang…”. Kata “jangan” lebih hemat karakter.
Usai tiga kali menjepret saya terus berjalan kaki. Seperti biasa, lamunan saya ke mana-mana. Saya menanya diri namun malas mencari tahu, adakah skripsi sosiolinguistik atau malah kajian budaya dengan banyak foto, yang membahas kalimat larangan dalam bahasa Indonesia?
Saya berpengandaian, kata “dilarang” lebih laku ketimbang “jangan”. Mungkin karena kebiasaan bahasa tulis dalam aneka maklumat, termasuk stiker siap tempel, yang sebagian merujuk ke bahasa Inggris: anu anu is prohibited atau it is prohibited to anu anu….

Ekspresi prohibisi dalam bahasa Inggris memang beragam, misalnya “no smoking“, “pets are not allowed in the…”, “… is not permitted“, atau “visitors may not use flash when taking pictures“.
Apakah kita harus serumit itu dalam melarang? Terserah perkembangan tuturan bahasa Indonesia. Dua jenis saja, yakni “jangan” dan “dilarang” mungkin sudah cukup, apalagi dibantu oleh lambang yang dalam dunia grafis disebut ikon, mirip rambu lalu lintas. Misalnya gambar sebatang sigaret dalam lingkaran dengan coretan merah.
Ada juga sih kalimat panjang yang maunya sopan: “terima kasih untuk tidak merokok”. Mungkin menerjemahkan “thank you for not smoking“. Bagi perokok bebal tak hirau adab, kalimat versi Indonesia bisa diabaikan karena tak berbunyi “dilarang merokok” maupun mungkin “jangan merokok” — tetapi opsi kedua ini jarang diterapkan, serupa tulisan pada pintu: “dilarang masuk kecuali…”.
Setiap bahasa mengenal nuansa kata dan kalimat. Di dalam nuansa ada rasa bahasa. Anda dapat menjelaskan lebih suka “jangan” dalam hal apa, dan “dilarang” dalam urusan mana pula. Dan juga mengapa kata kerja pasif cenderung lebih laku untuk urusan tertentu.

¬ Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Seno Gumira Ajidarma), yang kemudian menjadi film, dapat Anda baca di laman Dunia Sukab

2 Comments
Mungkin karena kita ikutin Belanda, Bang Paman. Pakai “dilarang” seperti “verboden”. Di Jerman “dilarang merokok” jadi “rauchen verboten”
Nah, boleh jadi kata “dilarang” mengesankan ditentukan oleh pihak otoritatif. Kalo jangan kesannya subjektif, personal, sepihak, begitukah? 😇