Spanduk dwibahasa furnish

Hanya orang kurang kerjaan yang menganggap spanduk developer ini aneh lalu membahasnya.

▒ Lama baca < 1 menit

Spanduk promosi perumahan Spring Garden di Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tak ada orang kebingungan saat membaca spanduk promosi perumahan di Pondokmelati, Kobek, Jabar, ini. Ada bonus “furnish“. Orang paham bahwa rumah yang dijual akan diterima oleh pembeli dalam keadaan furnished, dan semoga fully furnished, bukan semi–furnished apalagi unfurnished.

Furnished lebih diterima luas karena terdengar modern. Mungkin karena merujuk bahasa Inggris, karena jika orang mengucapkan “sudah ada mebelnya” akan terdengar arkais dan mengundang tawa. Mebel dari bahasa Belanda meubel. Dulu toko-toko buku menjual majalah dan buku furnitur dari Jerman dengan jenama mengandung kata möbel. Artinya perabotan.

Tetapi jika pengembang menjual rumah dengan gimik “sudah ada perabotannya” akan disangka menyasar konsumen dari kalangan orangtua dari para pensiunan. Perabot dan perabotan sudah dianggap arkais atau jadul, karena kata furnitur lebih kekinian. Banyak orang tak nyaman karena ditertawakan gara-gara mengucapkan kata yang sudah tiga perempat terkubur, seolah-olah dirinya baru menetas dari kapsul waktu yang bertolak dari masa lalu.

Kembali ke teks spanduk tadi, ya begitulah, kita memang masyarakat berdwibahasa. Seperti orang Melayu terpelajar di Malaysia dan Singapura begitulah, lancar berbahasa Melayu dan Inggris. Pun seperti masyarakat pra–Indonesia zaman Hindia Belanda dan masyarakat Indonesia sampai 1960-an, pascakemerdekaan, bilingual Indonesia dan Belanda.

Maka lihatlah, dalam spanduk ada “discount up to…” Lho, bukannya discount sudah diserap oleh bahasa Indonesia menjadi “diskon”, dan menepikan “korting” yang diserap dari bahasa Belanda? Halah riwil, setiap zaman punya selera dalam berbahasa. Media berita memilih kata “pengembang”, tetapi dalam keseharian orang mengucapkan “developer” — KBBI sudah menyerap kata ini lho.

Lalu tentang nama perumahan dalam spanduk, yakni Spring Garden, di area Jatiasih, Kobek, pada awal 1990-an ada perumahan bernama itu. Saya tak tahu apakah pengembangnya sama, namun pada 1995, saat perayaan 50 Tahun Indonesia Merdeka pemerintah meminta jenama berbahasa asing diindonesiakan. Kompleks perumahan termasuk yang disasar. Maka Spring Garden diganti Puri Gading. Catatan soal pengindonesiaan nama usaha pernah saya tulis di Koran Tempo (2015).

Apa saja sih kata dan nama yang asli Indonesia? Lha wong Indonesia saja diciptakan oleh James Richardson Logan, seorang pengacara Skotlandia yang hidup di Penang sebelum ada Malaysia, pada 1850.

4 Comments

Junianto Selasa 21 Oktober 2025 ~ 14.45 Reply

BTW Perumahan Puri Gading ada juga di Solo, eh Sukoharjo yang terletak di perbatasan Solo-Sukoharjo arah ke Sukoharjo/Wonogiri.

Pemilik Blog Selasa 21 Oktober 2025 ~ 18.13 Reply

Oh, menarik. Bukan dekat Soto Gading nggih? 😇

Junianto Rabu 22 Oktober 2025 ~ 12.11 Reply

Termasuk dekat. Soto Gading ke selatan (arah Sukoharjo) sekitar satu kilometer.

Tinggalkan Balasan