Motor kafir ini menunggak pajak kendaraan

Entahlah, keparat lebih sering muncul dalam tulisan ataukah lisan. Masa orang beriman mengumpat?

▒ Lama baca < 1 menit

Motor si kafir keparat di Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Sekarang Oktober 2025, namun pelat nomor sepeda motor di Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar, ini menunjukkan bahwa pemiliknya hanya melunasi pajak kendaraan sampai 2018. Apa karena dia keparat, seperti bunyi stiker pada sepatbor? Jangan terburu-buru menghakimi.

Mungkin dia memaksudkan orang lain, entah siapa, karena baginya keparat itu hanyalah umpatan dalam arti ekspresi kekesalan; padahal keparat berarti kafir. Dalam tafsiran saya, keparat adalah makian yang diucapkan oleh orang beriman, bukan bermain, kepada orang kafir. Tetapi masa sih orang beriman memaki?

Jika Anda orang beriman jangan suka mengumpat keparat — Blogombal.com

Mengafirkan pihak lain pernah menjadi alat politik, misalnya dalam Pilgub DKI 2017. Bukan oleh salah satu kontestan melainkan oleh sebagian pendukungnya. Saat itu pengutuban atau polarisasi pendukung kandidat sangat tajam. Ada tempat ibadah yang dijadikan alat propaganda antikafir.

Ihwal polarisasi, itu serupa Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Padahal dalam pilpres sebelumnya tak sekuat itu, sehingga banyak orang lupa siapa saja capres yang kalah dalam Pilpres 2004 dan 2009.

Lalu dalam Pilpres 2024 muncul apologia dari sebagian pemuja penguasa yang menempelkan anaknya dan pendukungnya ke bekas lawan demi mencegah polarisasi — artinya itu suatu terobosan kenegarawanan, mencegah bangsa terpecah. Halah. Padahal itu ditempuh dengan memperalat Mahkamah Konstitusi agar berlaku lancung.

Tinggalkan Balasan