Ladies and gentlemen, lêdhis èn gatêlên…

Dari tulisan ladies parking, ingatan saya zig-zag ke mana-mana, termasuk belut dan kepiting.

▒ Lama baca < 1 menit

Ladies parking di Trans Studio Mall Cibubur, Cimanggis, Depok, Jabar — Blogombal.com

Ketika melintasi kaveling ladies parking pada sebuah mal besar di Harjamukti, Cimanggis, Depok, Jabar, lamunan saya pun ke mana-mana. Pertama: saya tak tahu di Jabodetabek, selain mal yang baru berusia enam tahun ini, mana lagi yang menyediakan ladies parking?

Kedua: seingat saya fasilitas parkir untuk wanita di mal Jakarta mulai ada pada awal 2000-an, namun saya lupa itu di Pondok Indah ataukah Mal Taman Anggrek. Atau mungkin bukan kedua tempat itu, bahkan lebih dini, abad lalu, melainkan misalnya di parkiran supermarket premium seperti Kem Chicks miik Bob Sadino?

Ketiga: istilah ladies & gents diterapkan untuk salon rambut di banyak kota sejak medio 1970-an. Saat itu banyak cowok gondrong, dan yang agak gondrong, juga memilih salon daripada barber. Bahkan yang berambut cepak — ABCD: ABRI bukan, cepak doang — pun memilih salon. Di salon layanan lebih lengkap, bukan cuma pangkas rambut. Saat itu pula makin banyak pria penata rambut dan salon yang dioperasikan pria.

Keempat: dulu waktu saya bocah, anak-anak Jawa di Salatiga, Jateng, memelesetkan sapaan “ladies and gentlemen…” menjadi “lêdhis èn gatêlên…”, artinya bau apek tidak mandi dan gatal terus. Tampaknya ini meneruskan dagelan wagu para orang tua: load my dude, you may wrong, welut omahé lendhut, yuyu omahé ngerong.

Abaikan kalimat sok berbahasa Inggris itu. Untuk kalimat berbahasa Jawa berarti belut berumah dalam lumpur, ketam berumah dalam lubang di sungai.

2 Comments

Tinggalkan Balasan