
Lihatlah tulisan pada bak truk selain “bukan pemeran utama” yakni “kentir tapi mikir”, yang saya lihat kemarin senja di jalan tol JORR, antara TMII ke Jatiwarna.
Saya belum tahu padanan yang pas dalam bahasa Indonesia untuk kenthir dalam bahasa Jawa. Pelafalan kenthir dalam bahasa Jawa itu dengan “t” tebal seperti dalam bahasa Bali: ujung lidah agak terangkat ke atas, melengkung ke belakang (retrofleks) sedangkan “t” biasa itu ujung lidah seperti dijepit gigi atas dan bawah (alveoral).
Saya berpengandaian setiap bahasa memiliki ragam kosakata untuk kesehatan mental selain gila atau edan yang tampaknya tertinggi namun tanpa tinjauan klinis. KBBI mengartikan sinting sebagai “sedeng; miring; tidak beres pikirannya; agak gila: dia mengigau seperti orang –“. Tetapi dalam Bausastra W.J.S. Poerwadarminta tak ada lema kênthir, yang ada kéntir (hanyut).
Kembali ke kenthir, kesan saya gradasinya di bawah sinting (lafal Jawa: sinthing). Saya tak tahu apakah kenthir dan sinting berpadanan dengan lunatic yang mungkin lebih ringan dari crazy. Lunatic secara etimologis merujuk ke kata Latin luna, artinya rembulan, sehingga orang lunatic adalah orang yang berkurang kesadaran dan pengendalian dirinya karena terpesona candra. Karena dalam lunatic kadang ada unsur eksentrik mungkin pas dengan kenthir dan sinting.

Kembali ke bak truk, kentir tapi mikir itu seperti tema dagelan lawas yang dalam adab pergaulan dan tuturan media berita masa kini dianggap ofensif: pasien rumah sakit jiwa mengakui dirinya gila tetapi tidak bodoh karena dapat mengerjakan operasi matematis rumit yang menyita bidang papan tulis. Kata serapan dari bahasa Arab, yakni aljabar dengan sekian variannya, sungguh pas.
Kentir tapi mikir. Dalam situasi hari ini, merujuk suasana batin bangsa, ungkapan juragan truk — dalam batas apakah sopir boleh mencoreti alat kerja utama sesukanya? — memancing tafsir tentang aneka kebijakan pemerintah. Dalam hal apa? Mungkin kentirnya, mungkin berpikirnya.
Kritik ekonom Ferry Latuhihin, yang pernah menjadi tim ahli ekonomi Prabowo dalam Pilpres 2024, mungkin bisa melengkapi tafsir itu. Dalam kanal Rhenald Kasali, tuturan Ferry antara lain berisi:
- Marak demo akhir Agustus lalu adalah bukti social unrest yang sudah dia prediksi akibat koplonomics, istilah yang dia jelaskan di tempat lain
- Kebijakan Prabowo ultrapopulis, menghamburkan uang for nothing, terutama MBG
- Mestinya MBG itu cuma memerlukan Rp5 triliun setahun kalau sasarannya tepat
- Social unrest akan mengemuka lagi akhir tahun ini, dan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2026 akan negatif
Banyak lagi yang mereka obrolkan. Sebagai tontonan memang mengasyikkan, dan sekaligus membingungkan, karena bukan berupa tulisan yang terpaket dengan rujukan argumentatif. Kita harus mencari rujukan lain, misalnya menurunnya populasi kelas menengah secara statistik seperti yang lebih dari sekali diingatkan oleh bekas menteri keuangan Chatib Basri.
Maka kembali ke pokok soal, apa dong padanan kenthir dalam bahasa Indonesia?

4 Comments
Oh, saya kira hanyut itu “kintir”. Ternyata kentir juga tho..
Begitulah. Membingungkan ya? 🫢🫣
Versi ChatGPT 😁
Kata “kenthir” berasal dari bahasa Jawa. Arti utamanya adalah:
Gila, edan, atau tidak waras — biasanya dipakai dalam konteks informal atau bercanda, tapi bisa juga bernada merendahkan tergantung situasinya.
Kadang juga dipakai untuk menyebut seseorang yang aneh, nyeleneh, atau bertingkah di luar nalar.
Contoh pemakaian:
“Wong kuwi kenthir tenan, kok iso nglakoni ngono.”
→ “Orang itu benar-benar gila, kok bisa melakukan begitu.”
Hidup republik kenthir 👏💐