
Sebuah restoran belum tentu, atau tidak harus, dimiliki seorang ahli masak. Tetapi kalau ada pemuka ahli masak sekaligus pakar seni perdapuran — kata kuliner dari bahasa Latin, culīnārius, artinya dapur — tentu baik, dengan syarat kerja sama dalam majemen baik.
Di Badan Gizi Nasional tak harus semua pemimpinnya ahli gizi. Namun akan baik kalau ada ahli gizi dan syukur ada pula ahli etnokuliner, mengingat keragaman pangan Indonesia dan tradisi kulinernya secara lokal.
Oh ya, satu lagi: orang yang paham katering atau jasa boga— apa pun dan bagaimanapun latar pendidikan formalnya, berikut kontroversinya — yang penting pernah mendirikan dan memimpin perusahaan katering yang sukses. Dia tak hanya paham manajemen dapur tetapi juga standar pelayanan minimum bisnisnya. Tak boleh ada makanan basi setiba di tujuan.
Tentu karena posisi formalnya yang tinggi, dia tak harus berada dalam tim. Tetapi tim pusat bertanggung jawab terhadapnya. Setiap jawaban terhadap pertanyaan dari dia, “Kok bisa gini?” akan segera dia ketahui masuk akal atau tidak.
Tabik.

7 Comments
Cocomeo cengcengpo.
Apanya Pinokio?
Nah iya.. Memasak partai besar gitu nggak main2. Wapres juga berpengalaman hehe.
Btw saya sampai sempat mengira dapur MBG bakal dipegang orang angkatan. Duluuu pas Jakarta banjir besar, di parkiran gedung Mitra ada tentara masak di tenda, pakai sutil besaaar kayak sekop
Lho kok nyebut siapa itu tadi, Mbak Mpok?
Militer bantu di distribusi, dan urusan pangan lainnya.
Untuk ransum perang, yang tak didukung dapur, mereka punya makanan kaleng awet, selain tentu saja jungle survival kalau perlu makan ular. Ada lho biskuit yang keras dan awet seperti dalam standar sekoci penyelamat
Eh maapp nggak boleh nyebut, kah? Tapi kan memang benar, pernah jadi bos katering 😀
Nyebut si cocomeo.
Apanya cengcengpo?