
Memang, banyak saran kesehatan mengingatkan kita agar mengendalikan diri dalam makan gorengan, apalagi jika menggorengnya dengan minyak yang tak sesuai petuah ahli gizi. Semoga juragan dapur MBG yang merangkap anggota DPRD, bukan sebaliknya, juga menuruti saran ahli gizi. Juga memang, ada saja mahasiswa kedokteran dan bahkan dokter yang suka gorengan.
Nyatanya saat hujan, dingin pula, makan tahu goreng itu enak. Apakah kami tadi bikin gorengan bernama tahu selimut? Tidak. Saya ingat soal hujan, gorengan, dan dokter justru karena melihat resep membuat tahu selimut dalam bungkus bumbu marinasi, bukan maritiwul.

Resep itu disertasi kode QR untuk info lanjutan. Namun saya membatin tiga hal. Pertama: dari seratus konsumen, berapakah yang membaca resep tersebut? Kedua: dari sejumlah orang yang membaca, berapakah yang memanfaatkan kode QR? Ketiga: memanfaatkan QR atau tidak, berapa orang yang mempraktikkan resep tersebut?

Jangan-jangan setelah melihat topik resep pada bungkus maka pembaca langsung terilhami untuk mencari video tutorialnya. Kini makin banyak resep praktis melalui video, ada media sosial. Banyak ibu, juga bapak muda maupun tua, yang memanfaatkan panduan dalam video itu, gaes. Bukankah begitu, bukan?

