
Berita Kompas hari ini (Jumat, 12/9/2025) menarik, tentang salah urus beras premium. Kenapa beras premium sempat kosong di supermarket? Beras yang dijual di sana adalah beras fortifikasi.
Beras fortifikasi adalah beras khusus yang diperkaya zat gizi mikro, seperti vitamin A, vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12, asam folat, zat besi, dan zinc. Di supermarket, kemasan beras fortifikasi 5 kilogram berharga Rp90.000–Rp130.000, sedangkan beras premium Rp74.500–Rp79.000 bergantung zonasi. Pemerintah mengatur harga beras premium, tetapi tidak untuk beras fortifikasi.
Kompas mengutip Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Niti Emiliana, “Ini bisa mengecoh konsumen. Harganya yang lebih mahal dari beras premium dapat membebani dan menggerus daya bali konsumen.”
Baiklah kita tinggalkan soal salah urus. Hal itu memang bagian dari kebanggaan pemerintah: apa pun yang tak diurus dengan genah tidak membuat bangsa ini punah. Artinya, kita memang bangsa hebat nan gemah ripah, tiada masalah dengan rupiah maupun rapiah.
Kapsi foto karya Totok Wijayanto tersebut:
Pegawai menata beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di ritel modern Hypermart, Pejaten Village, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2025). Melalui jaringan ritel modern, Asosiasi Peritel Indonesia berkomitmen menyalurkan 800.000 ton beras SPHP hingga akhir 2025 guna mempermudah masyarakat mendapatkan beras dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.
Dari sisi visual, foto ini tak istimewa. Namun sebagai foto jurnalistik untuk ilustrasi berita, gambar ini aktual, di jepret dimuat dalam hari yang sama dalam versi web (Kamis, 11/9/2025). Bukan dari foto stok, begitulah. Banyak media daring yang lebih menyukai foto arsip maupun foto dari stok atau bank foto karena lebih murah dari sisi ongkos produksi redaksi.
Dari foto tersebut, saya terkesankan oleh tulisan “rice” dalam rak beras. Ya, bukan hal asing bagi kita jika supermarket dan toko untuk kelas menengah ke atas memasang nama dagangan dalam bahasa Inggris. Meskipun KBBI sudah menyerap “pastri”, toko lebih suka memasang tulisan “pastry”.
Eh, lalu untuk dairy products harus kita Indonesiakan menjadi apa? Istilah yang mudah adalah “produk susu”. Kalau “produk susu ternak” terlalu boros huruf dan suku kata.
Jadi, soal rice itu cincai dong? Orang Inggris tidak hidup dalam kultur beras. Maka beras dan nasi mereka sebut rice. Untunglah akhirnya paddy field diterima, tak hanya rice field maupun rice plant, untuk sawah. Orang Inggris mencomot paddy dari bahasa Melayu “padi”. Sama seperti mereka memungut kata amok, sarong, dan kampong.
Jadi, di supermarket kita diajak berputar dalam berbahasa, karena istilah yang kita akrabi, yakni beras, menjadi rice. Di rak lain, dalam sebuah supermarket bukan untuk ekspatriat, mungkin tak perlu teks dwibahasa, Inggris dan Indonesia, untuk label broken rice (menir), rice bran (bekatul) dan rice crust (intip, kerak nasi).
Eh, mendadak saya ingat nama seorang penulis lagu untuk opera modern, sering bermitra dengan sutradara Andrew Lloyd Webber, dan sang penulis juga membuat lirik untuk film Disney: Tim Rice. Jangan Anda terjemahkan.
