Pemecatan Kompol Cosmas dan persoalan Barracuda

Apa mungkin sih penumpang rantis Brimob menabrak orang tanpa terasa?

▒ Lama baca 2 menit

Kompol Cosmas Kaju Gae Barracuda — Blogombal.com

Misalnya pembaca blog ini menyebut saya membela Kompol Cosmas Kaju Gae ya bagaimana lagi. Saya sejak awal tak hanya bersedih dan marah atas kematian Affan Kurniawan namun mengecam mobil Brimob menabrak korban, lalu mobil itu kabur. Hingga dini hari saat kejadian saya menunggu kejelasan info apakah nyawa korban selamat.

Akhirnya sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri memecat Cosmas, Komandan Batalyon A Resimen IV Korps Brimob Polda Metro Jaya, dari keangggotaan Polri. Cosmas ada dalam mobil taktis Barracuda, duduk di depan, di samping sopir.

Sidang komisi etik setahu saya berbeda dari sidang pengadilan yang lama, dengan sekian saksi, bukti, dan ahli. Keputusan sidang etik harus lebih cepat.

Soal penulisan nama, Cosmas atau Kosmas, saya tak tahu mana yang benar. Namun tanda nama di dada baju seragam bertuliskan Cosmas. Lalu?

Sejak awal saya penasaran bagaimana sebenarnya kondisi interior Barracuda, armoured personnel carrier dari Korea Selatan. Sempat saya lihat video buram dengan suasana ramai dalam mobil itu.

Kenapa soal interior menarik perhatian saya? Cosmas membela diri dalam sidang, baru mengetahui akibat penabrakan dan pelindasan setiba di markas, dari anak buahnya yang menunjukkan video peristiwa di media sosial.

Saya tak paham otomotif, namun saya mengandaikan bemper depan dan belakang rantis dari baja, bukan plastik dan bahan lunak lain seperti pada mobil penumpang. Itu kendaraan militer, bukan mobil penumpang yang bempernya harus lunak, sesuai regulasi industri mobil untuk mengurangi risiko orang yang tertabrak pelan.

Maka saya heran dan ngeri jika melihat SUV konsumen menyalahi pabrikan: menambahkan bull bar, bahkan ada yang mengganti bemper dengan besi, padahal dikendarai di jalan umum. Bukan mobil reli maupun off-road di arena khusus.

Kembali ke interior adalah visibilitas luar mobil dari arah kabin. Saya belum mencari tahu adakah reviu Barracuda seperti cara Fitra Eri, Om Mobi, dan Ridwan Hanif mengulas mobil dengan mencobanya.

Tentang mobil menabrak orang, saya punya dua pengalaman. Pertama, saat remaja, saya naik Mitsubishi Colt Station omprengan, dari Jogja ke Bawen, duduk di depan. Visibilitas bagus. Mobil tanpa hidung itu menabrak seorang penyeberang jalan. Jeduk! Saya melihat seseorang terlempar ke atas, lalu semuanya tak saya ingat apa saja yang terjadi, selain sopir melarikan minibus itu ke pos polisi di Muntilan, Jateng, dan bilang, “Tolong Pak, saya nabrak orang!”

Kedua, saya tak melihat langsung kejadian di depan sebelah rumah saya, suatu pagi, belasan tahun silam. Kepala seorang balita dilindas ban sebuah Daihatsu Terios milik tetangga beda RT. Orang tersebut tercitrakan selalu berangkat kerja sambil mengoperasikan ponsel dengan tangan namun bukan berbicara selayaknya menelepon. Saat itu baru ada ponsel biasa dan BlackBerry.

Setelah melindas kepala seorang bocah, orang itu tetap berjalan pelan. Karena ibu-ibu menjerit dan menghentikan, dia pun turun lalu bingung melihat darah menggenang di atas beton jalan. Dia tak sadar telah meremukkan kepala seorang bocah, hanya ingat ada suara dukkk yang dia sangka roda mobil melindas suatu benda lunak.

Lalu hubungannya dengan Barracuda? Saya tak tahu apa saja yang terlihat oleh mata sopir dan penumpang mobil saat jalanan diisi kerumunan, malam hari, bercampur asap dan letusan pelontar gas air mata, sehingga pasti riuh, namun kendaraan melaju kencang, padahal bemper dan bodi mobil keras. Apakah menabrak orang tak terasa?

Tentu ada persoalan mendasar: kenapa berjalan kencang? Mobil kuat yang tahan lemparan batu maupun gebukan tiang besi bendera itu tak merambat, tetapi melaju; hal itu jelas sebuah kesengajaan. Demikian pula saat kabur ke jalan layang dikejar warga.

Soal sengaja membunuh atau tidak, Cosmas sudah membela diri, disertai sumpah demi Tuhan, dengan terisak. Tak ada niat membunuh Affan Kurniawan. Dia belum memutuskan menerima putusan ataukah akan banding.

¬ Foto: Tempo

Tinggalkan Balasan