Mobil Brimob melindas pengojek Affan, dan sebuah renungan

Polisi mesti mawas diri, paham kegundahan dan kemurkaan rakyat. Soal sebab dan akibat — juga ekses.

▒ Lama baca 2 menit

View this post on Instagram

A post shared by Elyasa Resya | Petualang, Template Creator (@elyasa_resya)

Duka saya untuk Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek Gojek yang tewas dilindas kendaraan taktis Barracuda Brimob di depan rusun Bedungan Hilir II, Jakpus, dalam demonstrasi Kamis malam (28/8/2025). Lalu mobil itu melarikan diri ke jalan layang Prof. Dr. Hamka (Casablanca) dan dikejar warga. Entah terbang ke mana jiwa kesatria nan perwira dalam diri mereka.

Tak semestinya itu terjadi. Kalau Kapolri Listyo Sigit Prabowo ke RSCM, menemui keluarga korban, meminta maaf, juga kepada publik, itu sudah semestinya. Menindak, bukan cuma memeriksa ketujuh personel dalam mobil, itu wajib.

Sebelumnya, juga tadi malam, Istana Kepresidenan, melalui Mensesneg Prasetyo Hadi, bukan melalui Kantor Komunikasi Kepresidenan, karena Prasetyo adalah Jubir Presiden, sudah mengingatkan polisi untuk berhati-hati menangani demonstrasi, dan “meminta atensi khusus” terhadap kasus Barracuda menabrak pengojek. Istana juga minta maaf atas peristiwa itu. Namun saat itu belum jelas apakah korban meninggal atau selamat.

Para petinggi Polri sudah semestinya bijak dalam mengendalikan anak buah di lapangan, karena di lokasi hanya ada sentimen negatif terhadap polisi, diperparah perilaku personel yang main keroroyok, sehingga khalayak di media sosial pun memaki polisi, bahkan menyebutkan ungkapan mondial, maaf, yakni ACAB (all cops are bastards). Abreviasi itu kadang disamarkan sesuai urutan abjad: 1312.

Kata Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri kemarin pagi, petugas hanya dapat menggunakan gas air mata atas perintah dirinya. Lalu bagaimana publik harus menyimpulkan ketika gas air mata digunakan, termasuk gas air mata ke arah rusun (¬ Tempo) dan para pengojek yang mendatangi Markas Brimob di Kwitang, Jakpus (¬ CNN Indonesia)?

Soal demonstrasi dan kemarahan publik sudah jelas penyebabnya, karena komunikasi pemerintah maupun DPR — kedua pihak ini di mata publik kadang sama — buruk, tak hanya dalam pesan verbal namun juga tindakan, termasuk berjoget kenthir.

Menyalahkan auctor intellectualis dan pihak asing bukanlah jawaban yang dewasa. Menyalahkan media sosial dan mematikan akses ke platform, misalnya X kemarin, bukan tindakan bijak, malah bisa disebut salah. Kalau sampean, yakni pemerintah dan parlemen, ngeselin ya rakyat marah. Sesimpel itu.

Menganiaya rakyat yang membayar pajak antara lain untuk menggaji polisi jelas bukan opsi. Diejek, bahkan dihina demonstran, itu risiko profesi. Bukankah semua polisi sudah diajari soal psikologi massa? Ucapan keras merendahkan kerap dilontarkan oleh mob untuk meluapkan emosi negatif sekaligus sebagai provokasi untuk membangkitkan amarah lawan. Ini memang penyakit manusia setelah mengenal bahasa yang tertata. Jangan terpancing. Tak usah menari dengan gendang pihak seberang.

Kalau polisi rendahan di lapangan dan terutama di media sosial diejek cari pekerjaan setamat SMA dengan orangtua menjual sawah, anggap saja itu ucapan tolol sedunia, meniru anggota DPR yang mereka lindungi. Menjual sawah demi pekerjaan anak bukanlah cita-cita setiap keluarga. Pengejek dan polisi terejek sama-sama korban ketidakadilan. Bahwa polisi kroco di lapangan diejek “suka baca jadi pinter, malas baca jadi polisi”, ya diterima saja. Salah mereka kalau ada citra itu: malas baca sejak belum jadi polisi rendahan.

Maka mawas dirilah wahai polisi. Percayalah tak ada wacana rakyat membubarkan polisi. Karena seburuk apa pun citra korps kepolisian, kalau sehari saja seluruh polisi secara nasional prei total, negeri akan kacau. Rakyat butuh polisi.

Selamat jalan, Affan.

2 Comments

devie Jumat 29 Agustus 2025 ~ 11.25 Reply

judulnya Kompas Cetak kuat, kata kerja aktif. atau apa istilahnya.

Rantis Brimob Lindas …

Pemilik Blog Jumat 29 Agustus 2025 ~ 14.11 Reply

Betul. Judul sebaiknya berupa kalimat aktif, apalagi untuk berita karena ringkas dan jelas subjek pelaku tindakan. Kalimat di dalam tubuh berita pun sebaiknya banyak yang aktif. Tentu kalimat pasif diperlukan untuk menonjolkan akibat.

Tinggalkan Balasan