Dwi Hartono: Penipu, motivator, dan pembunuh

Kenapa tak hanya perorangan yang suka motivator, karena kantor negeri dan partikelir pun gemar?

▒ Lama baca 2 menit


Saya baru tahu nama Dwi Hartono (40) maupun akun klanhartono setelah ramai berita pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih, Jakpus, Ilham Pradipta (37), yang mayatnya ditemukan di Bekasi, Jabar, terbebat lakban. Polisi menyebut Dwi sebagai tersangka otak pembunuhan (auctor intellectualis, bukan aktor intelektual) . Dari sejumlah berita saya jadi tahu bahwa Dwi adalah motivator melalui kanal pribadinya di YouTube.

Nama klanhartono, yang jika ditulis terpisah menjadi klan Hartono, bisa memberi kesan sebagai bagian dari keluarga Hartono pemilik Grup Djarum. Ternyata Dwi tak ada hubungannya dengan keluarga Kudus, Jateng, maupun keluarga Hartono pemilik Grup Delta Merlin di Surakarta yang bikin Hartono Mall.

Menurut Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Darma Sena, Dwi sempat tersandung kasus pemalsuan ijazah. Dwi Hartono memalsukan ijazah tingkat SMA dalam sekolah paket C, dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara pada 2012 (¬ Detik).

Saya malas memeriksa arsip Dwi di YouTube apakah dalam meniupkan motivasi dia menganjurkan pemirsa memalsukan ijazah. Soal pendidikan, di Instagram dia bercerita sedang berkuliah magister manajemen di UGM. Tetapi setelah kasus pembunuhan ini, UGM mengeluarkan dia.

Dwi Hartono: Penipu, motivator, dan pembunuh — Blogombal.com

Kenapa ya motivator laku? Saya ingin menjadi motivator dan dapat duit dari kantor-kantor yang mengundang saya untuk acara internal karyawannya maupun dari iklan di YouTube dalam kanal saya. Namun sayang, hingga kini saya belum menemukan video ringkas cara menjadi motivator yang laku.

Dalam pengandaian saya, motivator jempolan bisa membuat tayangan video ringkas cara menjadi motivator laris. Selain itu, motivator yang memompakan semangat mengubah diri, sehingga sukses secara finansial dan sosial, menurut saya harus bisa membuktikan bisa sukses berbisnis justru bukan dari presensi sosial di jagat digital.

Maaf, kalau kalimat saya rumit. Maksud saya seperti pemahaman saya selama ini: hanya percaya kiat menjadi kaya kalau pembuat videonya adalah 10 pembayar pajak pribadi terbesar di Indonesia yang tak punya akun di media sosial, tanpa pewawancara. Pihak yang mengunggahkan kontennya adalah sebuah akun resmi dan terverifikasi, yang jelas apa dan siapanya.

Kurang simpel? Maksud saya sukses dulu, secara finansial di tingkat super, baru bicara untuk publik, memberikan motivasi. Kok, saya membatasi di jalur finansial? Ukuran sukses yang disukai orang adalah kaya, dan satu lagi: tenar. Padahal kaya tanpa dikenal, kecuali oleh orang bank dan orang pajak, itu lebih mengasyikkan karena bisa berlagak miskin. Kalau bisa keluarga pun tak tahu, seperti dalam cerpen lama Gerson Poyk — tetapi bukan tentang orang superkaya.

Memang payah pemahaman saya tentang bisnis motivator; begitu dangkalnya sehingga saya tak tahu apakah setiap kantor yang mengundang motivator yang kadang menyebut diri coach itu sudah memetik manfaat. Maksud saya bukan dari kuesioner untuk peserta yang dibagikan setelah acara selesai, melainkan dari pemantauan dengan instrumen yang relevan.

Mohon pencerahan jika Anda lebih paham daripada saya.

¬ Foto: akun Instagram Dwi Hartono

4 Comments

mpokb Jumat 29 Agustus 2025 ~ 02.42 Reply

Motivator tapi motifnya nggak jelas ini gimana?Polisinya malah sibuk ngonten..
Semoga keluarga korban memperoleh keadilan 🙏

Pemilik Blog Jumat 29 Agustus 2025 ~ 07.36 Reply

Jelas gak jelas, yang penting ada yang suka. Yah kayak orang ngeblog gitulah. Setiap konten dan salurannya punya pasar masing-masing 🫣

Ini zaman kebebasan berkonten, maka ASN termasuk polisi, dan bukan ASN yakni militer, juga bikin konten dengan memakai atribut kedinasannya, padahal isinya personal.

Junianto Jumat 29 Agustus 2025 ~ 13.09 Reply

Betooool!

Sejak awal kasus muncul, saya cari pernyataan tegas polisi tentang motifnya di banyak artikel media online, tidak ada. Barusan cek ulang juga masih zonk.

Pemilik Blog Jumat 29 Agustus 2025 ~ 14.13 Reply

Katanya masih “didalami” oleh polisi. Dalam kalimat aktif yang sederhana: polisi masih menyelidiki motif Dwi.

Tinggalkan Balasan