
Saya lihat mur di jalan, masih berkilat, belum karatan. Saya menduga itu jatuh dari mobil atau sepeda motor. Lalu mur itu saya pungut. Ehm, kebiasaan masa kecil. Kalau melihat sekrup bagus dan sebangsanya saya pungut. Tentu saya tak bersengaja mencari apalagi sampai mengais-ngais. Setelah dewasa hal itu tak saya lakukan, apalagi kalau tempatnya kotor. Berbeda halnya jika saya sedang berjalan santai dengan pakaian olahraga.

Saya terakhir memungut mur baut dan saya dokumentasikan pada 2019, di Jangli, Semarang, Jateng, suatu pagi saat berjalan kaki di kawasan perumahan dengan kontur naik turun perbukitan. Lalu, mur tersebut saya bawa pulang ke Bekasi? Tidak. Saya tinggalkan di tempat tuan rumah.

Adapun mur yang ini saya opèni, masuk ke kotak alat. Apakah pernah terbukti mur dan baut yang saya temukan berguna? Ya. Namun yang lebih sering adalah barang yang saya butuhkan tidak ada. Misalnya saat memperbaiki French press kopi. Saya bawa alat itu, naik sepeda, ke toko, malam hari, tak terlalu jauh dari rumah, agar dapat mencocokkan ukuran.
Barang di jalan yang tak saya pungut waktu kecil, padahal banyak yang melakukan, adalah ladam atau tapal kuda. Di Salatiga, Jateng, dulu banyak dokar, kadang ada ladam tertanggalkan dari kuku kuda. Kata bapak saya, orang memungut ladam lalu memasangnya di rumah itu untuk keberuntungan. Saya tak berminat, karena saat bocah menghubungkan ladam geripis tajam dengan tahi kuda dan tetanus.


4 Comments
Saya juga, kalau nemu sekrup, mur-baut, asal enggak neyeng, saya ambil. Kadang saya manfaatkan/saya pakai lagi, tapi seringnya cuma tersimpan di rak di garasi.
Kayaknya ini kebiasaan wong lawas karena sejak kecil gitu
Konon katanya, profesi pertama yang perlu sertifikasi adalah profesi pemasang ladam kuda.
Nah! Konon begitu.
Kuku kuda tebal ya.
Apalah pribumi Amerika, eh native American, yang disebut orang Indian, juga memasang ladam pada kuda yang merupakan satwa pendatang?