
Foto ini adalah hal lumrah di banyak rumah dalam menyiasati ruang: teras untuk mengeringkan pakaian setelah dicuci. Tepatnya: mengeringanginkan, bukan mengeringkan dengan sinar mentari. Untuk pakaian juga lebih bagus, tak mudah pudar.
Menaruh jemuran di teras tentu lebih bagus daripada di badan jalan. Pada beberapa kasus, hal ini bukanlah cita-cita pemilik rumah, tetapi lebih karena salah desain saat renovasi: tak ada integrasi aktivitas, area cuci di bawah, jauh dari area jemur di atas. Asisten rumah tangga yang muda saja enggan naik tangga hanya untuk menjemur apalagi penghuni rumah yang sudah lansia.
Untunglah kini ada media sosial. Banyak contoh berupa video bahkan gambar tapak dalam mengelola ruang, termasuk area pengering pakaian. Keterbatasan lahan adalah tantangan yang diharus direspons secara arsitektural. Maka saya beberapa kali menyoal klinik arsitektur untuk rakyat.
Juga untung, seiring makin luasnya jaringan listrik, banyak rumah tangga memiliki mesin cuci dengan fitur pemerasan — kalau unit pengering terpisah itu mahal dan boros setrum. Misalnya tak ada mesin cuci, penatu kiloan ada di setiap perkampungan.
Tanpa elektrifikasi cuci pakaian, saya dulu membayangkan kerepotan setiap ibu setiap kali membaca berita kelahiran kembar lima, karena tak semua yang dipakai bayi adalah sekali pakai buang.
Istri saya dulu, seperti umumnya orang, harus membeli kain flanel panjang untuk dipotong dan menyediakan gurita bayi, semuanya harus dicuci. Tentu butuh area pengeringanginan, terutama rumah tangga tanpa mesin cuci maupun laundry. Memang sih, saat hujan urusan cucian adalah masalah. Termasuk mengeringkan sepatu.


7 Comments
Tinggal di Bandung dan Bogor yg mataharinya suka malu-malu, saya sering menjemur sepatu di belakang kulkas. Pada saat tinggal di Inggris, teman satu rumah terbingung-bingung melihat jurus saya menjemur sepatu.
Betul! Belakang kulkas!
Di kantor juga gitu. Ada juga di bawah AC.
Di sebuah majalah remaja cewek, rapat redaksi gempar karena ketika pemred membalik whiteboard ada jeroan cewek di sebaliknya. Konon itu milik sang pengarah gaya yang nginep di kantor.
Ini sepertinya rumus Jaman Dulu yang turun temurun. Saya Masih setia Sama kulkas untuk urusan sepatu Dan topi, yg biasanya dicuci sore Hari setelah rodo tampak kemproh selepas aktivitas. besok Pagi sudah on duty lagi
Saya juru cuci di rumah, biasa nyuci manual, lalu istri “memaksa” saya pakai mesin cuci, maka saya pun membeli mesin cuci.
Beberapa bulan kemudian setelah kami punya mesin cuci, istri mengeluh karena, menurut dia, banyak pakaiannya gejala rusak (molor, sobek kecil-kecil, dll.) gara-gara mesin cuci. Karena itu dia minta ke saya agar pakaiannya tak lagi dicuci pakai mesin….
😁🙈
Memang. Meskipun ada setelan fan kantong cucian, pakaian halus sebaiknya nggak masuk mesin cuci.
Kalo cuma dipakai sebentar cukup diclup clup manual.
Kebaya dan pakaian halus istri dan putri saya pada rusak krn Mbak Cuci gak mau dengar pengarahan, alasannya lupa sambil ketawa
Istri saya sudah mutung: semua pakaian dia, termasuk yang dari bahan jin, tak lagi dicuci pakai mesin. Sudah itu, tak dimasukkan ke jasa laundri untuk diseterika melainkan dia seterika sendiri.
Laundry kiloan gak bisa dipercaya. Mereka antem kromo. Pakailah laundry yang satuan atau laundry hotel.
Eh inget, dulu kalo dinas luar kota dan luar negeri ada biaya laundry