
Masalah parkir berbayar di minimarket tak pernah usai. Kemarin senja, dalam perjalanan 4,6 km memanfaatkan sepatu bapuk, saya singgah ke Alfamart di Jalan Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar. Ada tiga stiker parkir gratis ada kaca pintu.
Salah satu stiker mengesankan saya. Cukup ucapkan terima kasih jika ada yang membantu parkir. Meskipun saya tahu di banyak tempat ada juru parkir (jukir) liar, dan ada ada saja yang menyebalkan, saya tetap membayar parkir.
Negara belum mampu membayar layak pengangguran dan fakir miskin, sementara upah minimum kaum pekerja rendah. Yang lebih mendasar, negara pintar bikin aturan namun pemerintah sepersepuluh hati menegakkan hukum.

Liar atau resmi, umumnya jukir itu berguna. Setidaknya saat kita memundurkan mobil dari pelataran padahal lalu lintas ramai. Kesan saya banyak dari mereka yang sudah jadi ayah, harus ngempanin keluarga dan menyekolahkan anak. Saya beruntung pernah punya pekerjaan layak, gaji tidak tinggi tetapi bisa punya rumah dan mobil.
Jukir mengesalkan itu, misalnya, dalam istilah istri saya adalah lari dari kenyataan. Kalau lahan parkir sudah penuh, dia ngumpet saja. Setelah kita bisa memarkir lalu urusan selesai, dan mengeluarkan mobil dengan repot tanpa panduan, si jukir nongol, minta duit. Saya menyebutnya pahlawan kesiangan. Kalau ditegur, dia cuma mrèngès.
Di Jogja, ke arah Kaliurang, kami dua keluarga pernah mengudap di sebuah rumah makan. Malam itu hujan deras, jukir tak nampak, mungkin raganya terlarutkan oleh air dari langit. Saya mengedrop rombongan di depan pintu, lalu masuk untuk berteduh sebentar.
Saya tahu telah menghalangi beberapa mobil lain yang parkir berderet. Ketika saya keluar untuk memundurkan mobil, ternyata bodi kiri mobil sudah tergores dalam, mungkin digosok dengan kunci yang ditekan kuat, sepanjang dua pintu.
Pelakunya pasti kesal karena sampai terhalang, dan bisa keluar setelah mobil-mobil lain meninggalkan tempat. Setelah jukir nongol, saya memarahi dia. Jawabannya, “Saya tadi lagi ngurusi bus parkir, nggak liat Bapak.” Tetapi pulang dari sana saya tetap membayar.
Sebelumnya, di warung soto dalam area saya, ketika saya akan masuk ada mobil mau keluar. Saya mundur, belok, menepi di sisi jalan, memberi jalan. Setelah kaveling kosong, sebuah city car masuk. Saya tak dapat memarkir. Saya tegur si jukir, sudah tua, mengapa membiarkan mobil itu masuk.
Dia cuma mrèngès dan menggaruk kepala. Tetapi saya tetap membayar. Kata istri saya, “Kalo dia pinter, dia bisa kerja lain.” Padahal saya tak menyebut kata bodoh apalagi yang lebih kasar kepada Pak Jukir.
Kata psikolog, orang marah cenderung suka menyebut orang lain bodoh, tolol, pekok, bego, dan seterusnya. Anda termasuk? Setelah makin tua, dan menyukai kebatinan, saya lebih suka membatin kata-kata tadi. Banyak hal yang saya batin, termasuk saat melihat wanita dewasa cantik.
¬ Siaran Pemerintah Kobek tentang parkir gratis di minimarket

4 Comments
Saya juga (kalimat terakhir di paragraf terakhir).
Sebagai wong Sala, Lik Jun harus akrab dengan kebatinan
Di minimarket dekat rumah ada juru parkir liar yang sehari-harinya bekerja sebagai satpam di sekolah sekitar situ. Di luar waktu kerja sebagai satpam dia jadi juru parkir. Dua anaknya, kuliah di perguruan tinggi ternama negeri ini. Dari hasil markirin mobil itu pak, katanya.
Waaaaa. Sip.
Dulu di Circle K dekat Langsat sebelum era Gojek, ada tukang parkir yang bisa saya jadikan ojek dadakan. Padahal saya gak pernah parkir di sana, cuma saling kenal tampang aka.
Kalo dia lagi gak bisa akan mencarikan orang, salah satunya penjaga sekolah dekat sana.