
Pertanyaan saya ini pasti tipikal wong tuwèk lawas: apakah anak sekarang, terutama di kota, masih ada yang tiduran di atas rumput memandangi gumpalan awan sambil membayangkan wajah orang maupun rupa binatang?
Jawaban pengelak paling gampang: tak ada halaman berumput. Kalau teras rumah, bahkan balkon loteng? Pandangan terhalang rumah tetangga. Apalagi dari balik jendela kamar: tak dapat melihat langit.
Masa kecil saya di dua rumah mengalami tiduran di rumput menandangi awan. Setelah dewasa, sambil duduk di atas kloset kadang memandangi aneka tafsir bentuk dari motif ubin maupun dinding yang serupa awan.
Makin tua kebiasaan menafsirkan motif awan di ubin keramik dan marmer itu pun memudar. Namun kadang saya kasih memandangi mega dari teras untuk mengistirahatkan mata sejenak dari layar elektronik. Di tempat kerja terakhir, saya sering naik ke rooftop untuk mengistirahatkan mata sambil mengasap.
Inginnya sih melihat sawah, ladang, lapangan, tetapi itu semua tak ada. Yang terlihat hanya dinding dan atap bangunan. Itu pun dengan catatan, rumah saya juga mengadang mata tetangga. Tetapi misalnya ada duit saya tak ingin tinggal di apartemen tinggi apalagi di penthouse. Saya suka rumah tapak.

2 Comments
Di masa kecil kayaknya momen-momen memandangi langit ini paling sering pas bal-balan, Paman. Karena posisi saya bek, lebih sering menganggur ketimbang lari. Waktu-waktu lowong itu, kalau tidak untuk menulis sesuatu di tanah, ya untuk memandangi langit.
Beberapa tahun lalu saya sempat senang timelapse. Ternyata seru juga melihat perubahan bentuk awan.
Saya nggak bisa dribbling. Merebut bola dari bapak saya yang sarungan pun gagal. Supaya tak tersisihkan dalam pergaulan saya memilih posisi bek atau kiper.
Tapi Njenengan kan suka traveling, pasti sering menikmati lanskap luas dan langit 😇