
Mungkin Anda termasuk orang yang bosan dengan pos berikut foto tanaman di blog ini. Saya tak paham botani, identifikasi dengan bantuan AI pun belum tentu tepat, namun saya tetap bercerita apa saja. Kualitas foto saya pun biasa saja.

Ya, tetapi saya senang. Memotret tanaman di pinggir jalan, atau di balik pagar rumah orang, membuat saya berpikir, dan ujung-ujungnya mencari jalan pintas menanya Google Lens, Picture This, atau Plant@net. Jalan pintas tanpa disertai pemahaman taksonomis. Hingga kini saya tak ingat di atas spesies itu apa saja, padahal di kelas 1 SMP diajarkan.

Dari dunia flora yang saya sukai adalah gambar hasil kerja tangan. Untuk fauna juga ding. Tempo hari muncul gambar macan loreng hasil AI generatif. Perfek. Tetapi tak semua orang suka.

Hasil karya penuh etos tentang satwa Indonesia, seperti karya Alain Compost dan semua fotografer alam liar, dianggap lebih bernilai. Untunglah kampanye WWF tak menggunakan foto harimau hasil akal imitasi. Saat masih punya akses legal ke Shutterstock, saya memanfaatkan foto harimau sumatra untuk mendesain ilustrasi di blog ini.

Tentu tak semua konten harus anti-AI. Tergantung keperluan. Untuk ilustrasi bagi infografik di koran, gambar hasil kerja kompugrafis maupun AI bagi saya sah, asalkan dalam atribusi disebut. Demikian pula dalam iklan dan hiburan. Persoalan dalam pemanfaatan teknologi adalah etika.

Waktu bocah hingga remaja, saya senang gambar flora dan fauna karya Marjolein Bastin di majalah wanita Belanda, Libelle, milik ibu saya. Gambar dia kerjakan dengan cat air. Libelle dan Margriet adalah majalah Belanda yang mengilhami kemunculan majalah Femina di Indonesia.




Ketika Carolus Linneaus (1707—1778), bapak tamsonomi modern itu, mengamati suatu tumbuhan, artinya tak ditanam, maka menurut hemat bin pelit saya bukan tanaman, tentu tak menggambar sendiri. Bukan tugas dia. Tetapi mencoba menggambar tentu boleh. Apalagi belum ada kamera yang praktis, masih berupa kotak besar berisi lempengan kaca.

Demikian pula Alfred Russell Wallace (1823—1918), tetapi nama Operation Wallacea Indonesia dan Operasi Wallacea Indonesia itu berbeda. Nama yang kedua adalah program Ditjen Bea Cukai Kemenkeu untuk mencegah penyelundupan di perairan Indonesia Timur.
Adapun Ekspedisi Wallacea adalah paket jurnalistik Kompas untuk napak tilas (2019), yang tak semua media bersedia melakukannya. Ini yang bikin saya kesal terhadap Kompas, emang cuma dia yang bisa, media lain kagak? Kalau sekarang sih masuk akal, umumnya media berita cekak duit, sehingga melakukan PHK karena disrupsi.

Kembali ke gambar, Walter Raleigh (1553—1618) tentu juga punya ahli gambar. Tentu saat itu belum ada Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia, maupun kemudian Persatuan Ahli Gizi Indonesia). Tentang Operation Raleigh di Indonesia (1987), Rudi Ndobos dan pasangannya (dibahas di Bundalogy), atau sebaliknya, dapat bercerita.
Thomas Stamford Raffles (1781—1826) yang punya sisi kelam merampok Keraton Yogyakarta (1812), juga butuh juru gambar. Konon yang pertama kali menggambar padma raksasa (Rafflesia arnoldii) adalah istrinya, lalu orang lain menggambar ulang. Lagi-lagi Rudy lebih paham. Dan sejarah mencatat, Kebun Raya Bogor diawali oleh Raffles.
Juga lagi-lagi menyangkut Rudy, dia tahu siapa ahli gambar burung di Indonesia, yang konon tinggal di Bogor. Kalau ahli gambar botanis dari Indonesia yang bereputasi di Inggris adalah Eunike Nugroho (¬ BBC Indonesia, dan Kompas)
Lalu bolehkah , bukan bisakah, hasil gambar (drawing, painting) generatif AI untuk kepentingan ilmiah? Saya menanya lebih dari satu layanan AI gratis, yang cocok bagi saya adalah versi ChatGPT.
- Dalam deskripsi spesies baru (misalnya publikasi taksonomi), ilustrasi harus akurat dan dapat dioperasikan secara manual . Biasanya disyaratkan ilustrasi buatan manusia (gambar tangan atau foto mikroskopis).
- AI belum bisa menggantikan fungsi ini karena bisa menciptakan elemen yang tidak ada pada objek aslinya (halusinasi).
- Jika tidak dijelaskan bahwa gambar tersebut dihasilkan AI, hal ini dapat dianggap sebagai pelanggaran etika ilmiah atau bahkan menyesatkan .
- Jika AI yang digunakan tidak menjelaskan sumber data visualnya, maka akurasinya diragukan (misalnya AI yang mencampur data dari sumber tidak dikenal atau hasil rekaan).
- Kesimpulan: Ilustrasi botanis hasil AI dapat digunakan dalam sains dengan syarat transparan, akurat, dan tidak digunakan untuk klaim taksonomis.

4 Comments
Ah ya, Operation Raleigh ekspedisi 10F yang dilakukan di Pulau Seram (tepatnya di Taman Nasional Manusela) pada tahun 1987. Saya bertemu dengan perempuan yang kemudian menjadi istri saya di ekspedisi ini. Waktu itu kami diberi gelar sebagai penjelajah muda yang tugasnya macam-macam, mulai jadi penerjemah, membantu peneliti (ada banyak penelitian yang dilakukan) hingga jadi porter. Kisahnya ada ditulis oleh Prof Mirza Dikari (waktu itu beliau juga adalah penjelajah muda) dan istri saya di buku Bukan Carita Parlente (https://ipbpress.com/product/645-bukan-carita-parlente).
Dari ekspedisi ini, selain dapat teman hidup saya juga dapat jalan hidup. Saya memutuskan untuk berkarya di bidang pelestarian alam.
Saya ke TN Manusela untuk merayakan ultah ke-50, dari penginapan Pak Ali di Sawai naik sampan membelah hutan bakau, naik ke darat, terus mendaki bukit untuk uji stamina setelah semalam begadang dan banyak ngebir.
Saya kuat hingga ke tiang menara pengamatan yang sayang rusak. Buce, pemandu yang bekas penangkap burung, yang saat kecil pernah dicengkeram burung besar ke udara, menemani kami.
Kami? Saya tak sendiri. Anak-anak muda banyak yang kecapaian, mana ada yang cuma bersandal japit pula. Saya pakai boots Palladium lebih nyaman.
Ahli gambar burung terbaik saat ini di Indonesia, menurut saya, adalah Agus Priyono, dan ia ada di Bogor. Dia adalah sarjana kehutanan dari Universitas Gadjah Mada. Pernah kursus menggambar burung di Belanda. Karyanya yang pertama muncul di publik adalah gambar Elang jawa, sebagai gambar sampul muka buku Burung-Burung Terancam Punah di Indonesia (1995) yang saya ikut menulisnya bersama-sama dengan istri dan Paul Jepson. Agus juga menjadi juru gambar untuk poster burung bermigrasi yang dikeluarkan oleh National Geographic Indonesia. Lama saya tidak bertemu Agus, semoga dia sehat-sehat saja.
Iya, saya lupa namanya, belum pernah ketemu orangnya. Dulu karya dia di NGI.
Standar NG Pusat itu ketat. Peta dibuat oleh kartografer. Konon foto bukan hasil krop.
Manajemen arsip foto NG juga bagus. Dulu saya suka rubrik On Assignment di belakang yang menampilkan arsip kuno The National Geographic Society.
Bagusnya langganan NG itu pelanggan paket setahun dikasih piagam, dianggap member of the society.
Bagi saya, NG adalah kombinasi top jurnalisme, ilmu pengetahuan, dan petualangan. Rencana liputan dibuat setahun sebelum eksekusi.
Ketika Indonesia mau bikin NGI harus mengirimkan dummy. Washington menugasi sebuah tim yang sangat memahami bahasa Indonesia untuk memeriksa teks.
Setelah mewancarai narasumber, NG mengirimkan bukti pemuatan dan bila perlu terjemahan sesuai bahasa yang dipahami narasumber. Jika narasumber buta huruf, NG menugasi orang untuk membacakan. Kalo gak salah, Mbah Maridjan termasuk nara sumber yang ditemui pembaca teks.
NG juga termasuk pelopor kapsi non-turistik. Subjek foto jelas, misalnya “Aliu, 10 hahun, harus berjalan pulang pergi 4 kilometer untuk mengambil air bersih di mata air, di anu, anu, anu, negeri anu.”
Apakah semua jurnalis Indonesia dan redaksi mau belajar dari NG?
Sayang versi cetak tamat.
Salah satu poster yang saya sukai adalah peta semua ekspedisi di dunia, termasuk serangan Kubilai Khan ke Jawa. Dari peta saya menghitung, Marco Polo berangkat saat muda pulang setelah tua.